Prayer Prayers In The Fiqh and Sufism

Diposkan oleh Bany adam



According to Islam began to be taught a child's prayer when it started was 7 years old. At that time the staggered start shuffling introduced how the science of jurisprudence upholding the prayers. How to pray it can be read in books of fiqh manual of prayer.

So in plain view if someone has really lafadz motion and that required by religious law was valid then the prayer is one such Muslim. Thus a child who is pious from childhood to adulthood and even to enter the grave if not add to what is promoted by the Prophet of Allah, then keep them in prayer in jurisprudence.

As a result, what happens now is:

Candidates so much corruption and of being caught is a Muslim.
A corrupt mayor and is now curled up in jail is a Muslim.
In the Ministry of Religious Affairs are also involved in corruption of the Muslim.
There are more criminals, thieves, etc.. They are also of Muslims.
It would be the question arises, why such things can happen when:

The prayer you As I pray (Hadith of the Prophet)
Tegakanlah Prayer, Because Can Prevent shameful and unjust deeds (Al-Qur'an)
Are any of the above statement, why the prayer is still involved in corruption, why are people who pray are thief people money?

A. The prayer you As I pray

Many people follow this, but just look at the motion and just reading the Apostle, who attended the birth of the alias that is to follow the jurisprudence, they forget the mystical.

So that is learned is, the prophet is the obligatory prayers five times a day and prayer plus circumcision, he was in the prayer movement so and so and bacaanya are these verses. It is no more and no less, as a result many people are praying, but the result still does not prevent sin. The proof now that so many suspects and defendants who were Muslim.

2. Tegakanlah Prayer, Because Can Prevent shameful and unjust deeds

Why do many people who pray, but not protected from shameful and unjust deeds, whether the above statement is a lie. Again, the only important act of birth, that is Fiqihnya only. They forget his Mysticism.

Apostle or Prophet Muhammad was the perfect example of morality, since the person who holds a small already believed al-Amin, he has a noble spirit, noble spirit that was to be achieved within the teachings of Sufism. So in the Prayer spell out signs for the Fiqh rambunya while Sufism is Sukma? of these prayers. So Fiqh should be in line with Sufism.

So As I Pray you pray, do not just limited to the seemingly alone, but to be seen how the Prophet also be diikut khusuknya as well. So in order to achieve kekhusukan prayer with the Apostle, in jurisprudence there is no answer, the answer is Sufism.

Sufism within an easy one listed here is:

When you pray, as if you see God, if you can not see God, know that God sees you. People who have been true prayer is a prayer jurisprudence and then increases until it reaches the noble spirit (the main purpose of Sufism is noble or mukhlisin) then they have always felt close to God and God always see them, so they always keep the behavior in order to keep her noble character.

If people always uphold their prayers and believe God is always considered, not only in prayer but also in everyday life, then of course be protected from indecency and evil. Not sure habits to increase the noble spirit, one way to enrich the science of jurisprudence with Sufism, because the Prophet Muhammad is the source of Fiqh and Sufism.
More aboutPrayer Prayers In The Fiqh and Sufism

berjabat tangan sesudah sholat berjamaah

Diposkan oleh Bany adam

menurut Imam Nawawi.
 berjabat tangan setelah sholat berjamaah hukumnya sunnah coba di cek di
kitab Bughyatul Murtasyidin 50

http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/search/label/Fiqih%20salat
More aboutberjabat tangan sesudah sholat berjamaah

Sholat membawa Hp bisa Haram

Diposkan oleh Bany adam


 Fiqih sholat

segala hal yang berpotensi mengganggu konsentrasi dalam sholat, sunnah untuk dihindari.Jika ada dugaan  ponsel berbunyi di tengah-tengah shalat sehingga mengakibatkan tasywis (gangguan konsentrasi) pada dirinya sendiri; Atau ada kemungkinan tasywis pada orang lain, maka hukumnya makruh. Bahkan haram bila ada dugaan atau keyakinan menyebabkan tasywis pada orang lain yang melebihi batas kewajaran atau lebih dari sekadar menghilangkan kekhusyu’an.

Catatan :
Tasywis adalah segala sesuatu yang menyebabkan terganggunya konsentrasi (kekhusyu’an) orang yang sedang shalat.
Referensi
  • Nihayatul Zain Juz 1 hal. 80
  • At Tarmasi Juz 2 hal. 396 – 397
  • Hawasyi Asysyarwani Juz 4 hal. 61

نهاية الزين ج: 1 ص: 80
وكره صلاة بمدافعة حدث ويسمى من اتصف بذلك حاقبا بالباء إذا كان مدافعا بالغائط وحاقنا بالنون إذا كان مدافعا بالبول وحاقما بالميم إذا كان مدافعا بهما وحازقا بالزاي إذا كان مدافعا بالريح والعبرة في كراهة ذلك بوجوده عند التحرم ويلحق به ما لو عرض له قبل التحرم فرده وعلم من عادته أنه يعود له في أثناء الصلاة والسنة تفريغ نفسه من ذلك لأنه يخل بالخشوع وإن خاف فوت الجماعة حيث كان الوقت متسعا فإن ضاق وجبت الصلاة مع ذلك إلا إن خاف ضررا لا يحتمل عادة

الترمسى الجزء الثانى ص: 396-397
(ويحرم) على كل أحد (الجهر) في الصلاة وخارجها (إن شوش على غيره) من نحو مصل أو قارئ أو نائم للضرر ويرجع لقول المتشوش ولو فاسقا لأنه لا يعرف إلا منه وما ذكره من الحرمة ظاهر لكنه ينافيه كلام المجموع وغيره فإنه كالصريح في عدمها إلا أن يجمع بحمله على ما إذا خف التشويش (قوله على ما إذا خف التشويش) أي وما ذكره المصنف من الحرمة على ما إذا اشتد وعبارة الإيعاب ينبغي حمل قول المجموع وإن آذى جاره على إيذاء خفيف لا يتسامح به به بخلاف جهر يعطله عن القراءة بالكلية انتهى

حواشي الشرواني ج: 4 ص: 61
قوله ورفع صوته ولو في المسجد أي حيث لا يشوش على نحو مصل وقارىء ونائم فإن شوش بأن أزال الخشوع من أصله كره فإن زاد التشويش حرم ونائي وفي سم عن الإيعاب ما يوافقه زاد الكردي علي بافضل قال ابن الجمال يكفي قول المتأذي لأنه لا يعلم إلا منه اهـ

 Fiqih sholat

http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/search/label/Fiqih%20salat
More aboutSholat membawa Hp bisa Haram

hukum kertas Berlafadh Al Qur'an Menjadi Bungkusnasi

Diposkan oleh Bany adam

kertas  Berlafadh Al Qur'an Menjadi Bungkus nasi
  
       Menggunakan kertas atau koran yang padanya tertulis lafal jalalah atau nama-nama nabi sebagai bungkus  kacang misalnya, hukumnya adalah haram.
  1. Dasar pengambilan Kitab Fatwa Al haditsyah halaman 162
    يَحْرُمُ جَعْلُ الاَوْرَاقِ الَّتِى فِيْهَا شَيْئٌ مِنَ الْقُرْأنِ اَوْمِنَ الاَسْمَاءِ المُعَظَّمَةِ غِشَأً مَثَلاً, اَخْذَ مِمَّ اَفْتَى بِهِ الْحَنَّّاطِى مِنْ حُرْمَةِ جَعْلِ النَّقْدِ فِى كَاغِدٍ فِيْهِ بِسْمِ اللهِ الَّرحْمنِ الَّحِيْمِ.
    Haram menjadikan kertas-kertas yang padanya tertulis sesuatu tentang Alquran atau dari nama-nama yang di agungkan sebagai tutup misalnya, karena mengambil dari apa yang di fatwakan Al Hanati tentang keharaman menjadikan uang dalam kertas yang padanya tertulis Basmalah. 
     http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/

More abouthukum kertas Berlafadh Al Qur'an Menjadi Bungkusnasi

hukum budidaya Kodok

Diposkan oleh Bany adam


Menurut pendapat mazhab yang benar dan didukung oleh pendapat jumhur ulama’ (sebagian besar ulama’) , kodok itu hukumnya haram dimakan dagingnya. Setiap makana yang haram dimakan haram pula dijual dan uangnya hasil penjualanya haram.
Dasar pengambilan Kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab juz 9 halaman 32:
اَلضَّرْبُ الثَّا نِى مَايَعِيْشُ فِى اْلمَاءِ وَفِى اْلبَرِّ اَيْضًا... اِلَى اَنْ قَالَ: وَعَدَّ الشَيْخُ أَبُوْ حَامِدٍ وَاِمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِى هَذَا الَضَّرْبِا اَلضِّفْدَعَ وَالسَّرْطَانَ وَهُمَا مُحَرَّمَانِ عَلَى اْلمَذْ هَبِ اَلصَّحِيْحِ الْمَنْصُوْصِ وَبِهِ قَطَعَ اْلجُمْهُوْرُ. وَفِيْهَاقَوْلٌ ضَعِيْفٌ اَنَّهُمَا حَلاَلٌ.
Macam yang kedua dari binatang yang haram di makan dagingnya adalah binatang yang hidup di air dan juga yang hidup di darat… sampai pada ucapan mushanif: Asy syeikh Abu hamid dan Imam Haramaini menghitung katak dan kepiting dalam macam ini menurut mazhab yang benar yang telah di tetapkan, dan jumhur ulama’ telah memutuskan pendapat ini. Dalam pendapat-pendapat yang mengenai hal ini ada pendapat yang lemah mengatakan kodok dan kepiting itu hukumnya halal . 
http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/

More abouthukum budidaya Kodok

hukum perdagangan lewat internet (e-commerce)?

Diposkan oleh Bany adam

  1. Perdagangan lewat internet itu hukumnya boleh, karena dalam perdagangan tersebut telah diterangkan:
    1. Telah diterangkan sifat-sifat dari barang yang diperdagangkan.
    2. Telah ditetukan harga dari barang yang diperdagangkan.
    3. Terdapat ijab qabul lewat tulisan dalam internet tersebut.
    Dasar Pengambilan:
    1. Kitab At-Tadzhib halaman 123:
      وَبَيْعُ شَيْءٍ مَوْصُوْفٍ فِي الذِّمَّةِ فَجَائِزٌ اِذَا وُجِدَتِ الصِّفَةُ عَلَى مَا وُصِفَ بِهِ .
      Menjual sesuatu yang diterangkan sifatnya dalam tanggungan itu boleh apabila sifat tersebut didapati pada barang dagangan yang telah diterangkan sifatnya.

       
    2. Kitab Al-Muhadzdzab juz 1 halaman 301:
       
      (فَصْلٌ) وَإِنْ كَتَبَ إِلَيْهِ وَهُوَ غَائِبٌ أَقْرَضْتُكَ هذَا أَوْ كَتَبَ إِلَيْهِ بِالْبَيْعِ فَفِيْهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا يَنْعَقِدُ لأَنَّ الْحَاجَةَ مَعَ الْغَيْبَةِ دَاعِيَةٌ إِلَى الْكِتَابَةِ.
      (Fasal). Jika seseorang menulis surat kepada orang lain, sedangkan orang lain tersebut gaib (tidak hadir): "Aku qiradlkan kepada anda sejumlah uang ini", atau menulis kepadanya mengenai jual beli, maka dalam hal ini ada dua segi. Yang pertama sah, karena hajat bersama seseorang yang tidak hadir itu adalah mengundang kepada tulisan.

       
  2. Kuis di televisi lewat telepon dengan tarif pulsa yang jauh lebih tinggi dari pada pulsa biasa (premium), dan bagi yang beruntung mendapat hadiah, sedang yang tidak beruntung akan kehilangan banyak uang. Dari sifatnya yang demikian ini (untung-untungan), maka kuis di televisi ini termasuk perjudian yang dilarang oleh Allah swt. dalam surat Al Ma'idah ayat 90: 

    http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More abouthukum perdagangan lewat internet (e-commerce)?

hukumnya menggauli isteri yang sudah selesai haid tetapi belum mandi wajib

Diposkan oleh Bany adam

  1. hukumnya menggauli isteri yang sudah selesai haid tetapi belum mandi wajibadalah
    Hukumnya haram. Untuk itu suami harus bersedekah setengah dinar emas (1 dinar = 3,879 gram).
    Dasar Pengambilan
    1. Majmu' Juz 2 Halaman 375
      ... فَعَلى قَول الجُمْهُورِ: لَو وَطِئَ بَعْدَ الإِنْقِطَاعِ وَقَبْلَ الإِغْتِسَالِ لَزِمَهُ نِصفُ دِنَارٍ
      Maka menurut mayoritas ulama; kalau seseorang mengumpuli isteri setelah usainya masa haid tetapi belum mandi maka dia wajib sedekah setengah dinar.
    2. Majmu' Juz 2 Halaman 381
      (فرع فِى مَذَاهبِ العُلَمَاءِ فِى وَطْئِ الحَائِضِ إِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ الغُسْلِ) قَد ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا تَحْرِيمُهُ حَتَّى تَغْتَسَلَ او تَيَمَّمَ حَيْثُ يَصِحُّ التَيَمُّمِ.
      Sub bab mengenai madzhab ulama dalam masalah mengumpuli wanita haid yang sudah suci tetapi belum mandi. Sudah kami nyatakan bahwa madzhab kita mengharamkannya sampai wanita tersebut mandi atau tayamum dengan memperhatikan syarat keabsahan tayamum
      http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More abouthukumnya menggauli isteri yang sudah selesai haid tetapi belum mandi wajib

hukum jual beli gitar

Diposkan oleh Bany adam


Karena mempergunakan gitar itu hukumnya haram sebab termasuk alat malahiy, maka jual beli gitar hukumnya juga haram dan uang hasil penjualan juga haram.
Dasar pengambilan:
Kitab Syarah Sullam Taufiq hal. 53:
وَيَحْرُمُ بَيْعُ كُلِّ مُحَرَّمٍ كَالطُّنْبُوْرِ قَالَ عَطِيَّةُ هُوِ بِضَمِّ الطَاءِ كَمَا فِي الْمُخْتَارِ أَيْ وَكَالْمِزْمَارِ بِكَسْرِ الْمِيْمِ فَلاَ يَشْتِرِيْ لاِبْنِهِ زِمَارَةً أَوْ صُفَارَةً وَإِذَا رَأَى ذلِك وَجَبَ عَلَيْهِ كَسْرُهُ اهـ ذلِكَ لأَنَّهُ لاَ نَفْعَ بِذلِكَ نَفْعًا مَقْصُوْدً فِي الشَّرْعِ . قَالَ ابْنُ حَجِرٍ وَلَوْ كَانَ ذلِكَ مِنْ ذَهَبٍ فَيَكُوْنُ بَذْلُ الْمَالِ فِيْ مُقَابَلَتِهِ سَفَهًا وَإِنَّمَا صَحَّ بَيْعُ إِنَاءِ النَّقْدِ لأَنَّهُ يَحِلُّ اسْتِعْمَالُهُ لِحَاجَةٍ بِخِلاَفِ آلاَتِ الْمَلاَهِيْ .
Dan haram menjual setiap barang yang haram seperti menjual tambur. 'Athiyah berkata: tambur itu bahasa Arabnya adalah thumbur dengan didlommah hurufnya tha' sebagaimana tersebut dalam kamus Al Mukhtar, artinya dan seperi seruling (mizmar dengan kasrah mim). Maka seseorang tidak boleh membeli seruling untuk anaknya atau peluit. Dan jika sang ayah melihat anaknya mempergunakan seruling, maka wajib atas ayahnya untuk memecahkannya. Yang demikian itu karena sama sekali tidak ada manfaat dengan barang tersebut dengan manfaat yang dimaksudkan dalam syari'at agama Islam. Ibnu Hajar berkata: Jika seruling tersebut terbuat dari emas, maka mempergunakan harta untuk membuat seruling tersebut adalah suatu ketololan. Sesungguhnya sah menjual bejana yang terbuat dari emas, karena dalam satu hajat boleh mempergunakannya, berbeda dengan alat-alat mahahi.
2. Berdasarkan keterangan dari kitab Syarah Sullam Taufiq di atas, jika anda terlanjur sudah mempunyai gitar, maka anda harus merusaknya. 
http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/

More abouthukum jual beli gitar

hukumnya bertato dan anak haram menjadi imam shalat

Diposkan oleh Bany adam

  1. Bertato itu hukumnya haram dan dilaknat.
    Dasar Pengambilan:
    Hadits Nabi Muhammad saw. yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim:
    عَنِ ابْنِ عُمَرَ رع أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص م لَعَنَ الْوَاصِلَةَ والْمَوْصُوْلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ . متفق عليه .
    Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw. melaknat wanita yang menyambung rambut (sopak) dan wanita yang minta disambungkan rambutnya, dan wanita yang bertato dan yang minta ditato.
     
  2. Dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab fiqih, kami belum menjumpai hukum keharaman anak zina menjadi imam dalam shalat berjama'ah. Yang ada hanyalah hukum "khilaful awla" (hukum di bawah makruh), sebagaimana tersebut dalam kitab Tuhfatut Thullaab halaman 29 yang berbunyi:
    وَمِنْ إِمَامَتِهِ خِلاَفُ الأَوْلَى وَهُوَ وَلَدُ الزِّنَا وَوَلَدُ الْمُلاَعَنَةِ .
    Dan dari pekerjaannya menjadi imam shalat adalah khilaful awla, yaitu imamah dari anak zina dan anak mula'anah.
    Dalam kitab Al-Umm juz 1 halaman 193 juga disebutkan:
    وَأُكْرِهَ أَنْ يُنْصَبَ مَنْ لاَ يُعْرَفُ أَبُوْهُ إِمَامًا لأَنَّ الإِمَامَةَ مَوْضِعُ فَضْلٍ وَتَجْزِئُ مَنْ صَلَّى خَلْفَهُ صَلاَتُهُمْ .
    Dan dimakruhkan apabila orang yang tidak diketahui bapaknya dijadikan imam, karena imamah itu adalah tempat keutamaan. Sedangkan orang-orang yang shalat di belakangnya hukumnya sah.
 http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More abouthukumnya bertato dan anak haram menjadi imam shalat

Hukum Membakar Kemenyan Untuk mendapatkan keselamatan

Diposkan oleh Bany adam

    1. Hukum membakar kemenyan dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan adalah haram, sebab memohon keselamatan dan lainnya bagi orang muslim hanyalah kepada Allah swt, sedangkan untuk memohon kepadaNya haruslah sedangkan untuk memohon kepada-Nya haruslah sesuai dengan ketentuan yang disebutkan oleh Allah swt. sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 186 yang berbunyi:
      وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ، أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتِجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ.
      Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
      Dalam tafsir Al Qurthubi, disebutkan bahwa pengertian dari: فَلْيَسْتَجِيْبُوْا , adalah:
      فَلْيُجِيْبُوْا لِيْ فِيْمَا دَعَوْتُهُمْ إِلَيْهِ مِنَ الإِيْمَانِ: أَيِ الطَّاعَةِ وَالْعَمَلِ.
      Maka hendaklah mereka mengabulkan kepada-Ku mengenai apa yang Aku memanggil mereka kepada hal tersebut tentang iman, artinya ta'at dan beramal.
      Jadi dalam ayat tersebut di atas ditegaskan, bahwa apabila do'a kita dikabulkan oleh Allah swt., kita harus ta'at kepada Allah mengenai ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan olehNya dalam menncapai tujuan yang menjadi sasaran darido'a kita dan kita harus bekerja keras dalam mencapai do'a tersebut, dan bukan dengan membakar kemenyan.
    2. Tentang membakar kemenyan untuk memanggil ruh nenek moyang, maka yang datang bisa datang sebab dibakarkan kemenyan tersebut adalah ruh-ruh jahat yang disebut syaithan atau jin-jin kafir yang mengaku-ngaku seperti nenek moyang. Adapun ruh-ruh nenek moyang itu sendiri, setelah meninggal dunia, semuanya ditahan di alam barzakh (alam kubur) dan tidak dapat keluar kecuali pada hari kiamat nanti. Memang ada nabi-nabi tertentu yang dapat memanggil ruh orang yang sudah mati untuk kembali ke jasadnya lagi, seperti nabi Musa yang memanggil ruh dari orang yang telah dibunuh untuk ditanyai siapa pembunuhnya sebagaimana yang diceriterakan dalam Al Qur'an dan nabi Isa yang dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati ratusan tahun untuk membuktikan bahwa beliau adalah utusan Allah, tetapi tidak untuk dimintai keselamatan dan lainnya.
      Dasar Pengambilan:
      Al Qur'an surat Al Mu'minun ayat 99 - 100:
      حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ. لَعَلِّيْ أَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ، كَلاَّ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا، وَمِنْ وَّرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ.
      Sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang dari mereka, makia dia berkata: Wahai Tuhanku, kembalikanlah daku; supaya aku mengerjakan amal-amal shalih dalam perkara-perkara yang telah aku tinggalkan. Tidak! Masakan dapat? Sesungguhnya perkataannya itu hanyalah kata-kata yang ia saja yang mengatakannya, sedang di hadapan mereka barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari nereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat).
      Jadi kalau ada orang yang mengaku dapat mendatangkan ruh dengan membakar kemenyan atau dengan cara yang lain, maka yang datang itu adalah ruh dari jin atau syaithan yang mengaku sebagai ruh orang yang sudah meninggal dunia, seperti jin-jin yang dipanggil dalam permainan jailangkung atau nini thowok.

      Bahkan kalau ada orang yang mengaku bertemu dengan ruh seorang wali yang telah meninggal dunia sewaktu dia berziarah ke makamnya, maka belum tentu yang menemui itu adalah ruh dari wali tersebut dan kemungkinan besar dia adalah syaithan yang menjelma seperti wali tersebut; kecuali orang yang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw, maka benar-benar dia bertemu dengan beliau, karena syaithan tidak mampu memjelma seperti Nabi Muhammad saw, sebagaimana hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah sebagai berikut:
      عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رع قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ص م يَقُوْلُ: مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِي الْيَقَظَةِ وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِيْ. قَالَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ: قَالَ ابْنُ سِيْرِيْن: إِذَا رَآهُ فِي صُوْرَتِهِ .
      Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Saya mendengar Nabi saw. bersabda: Barangsiapa yang melihat saya dalam tidur, maka dia akan melihat saya pada waktu jaga, dan syaithan tidak dapat menjelma seperi saya. Abu Abdillah berkata: Ibnu Sirin berkata: Apabila dia melihat Nabi dalam rupanya.
       
  1. Pembakaran dupa itu ada dua macam:
    1. Dupa yang dibakar untuk pengharum ruangan yang berupa kayu garu yang sudah dirajang kecil-kecil seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arab sampai sekarang pada waktu ada pertemuan.
    2. Kemenyan atau yongsua (dupa cina) yang dibakar dalam upacara penyembahan berhala atau ruh nenek moyang. 

      http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutHukum Membakar Kemenyan Untuk mendapatkan keselamatan

Kaya Dengan Jalan Haram

Diposkan oleh Bany adam


  1. kaya melalui jalan haram maka mustahil seseorang itu bisa tenang hatinya dan dia tidak akan mungkin dapat beribadah dengan baik. Kalau dia sehat mungkin saja karena sehat itu terkait dengan kondisi fisik tetapi kalau afiat maka hal itu tidak mungkin karena terkait dengan ketenangan hati. Kalaupun dia bisa beribadah secara fisik, maka salatnya itu salat jasmani saja. Dan yang terpenting harta yang haram ini akan selalu mengajak untuk selalu maksiat dan berbuat curang. Anda dapat menganalogikan perbedaan kondisi sebuah mesin yang digerakkan oleh bahan bakar yang baik dengan yang digerakkan oleh bahan bakar yang jelek.
    Dasar Pengambilan:
    إحْيَاء علُوم الدين جز 2 ص 92
    مَنْ أَكَلَ الحَرَامَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ أَمْ أَبَى عَلِمَ أَو لَمْ يَعْلَمْ وَمَنْ كَانَتْ طُعْمَتُهُ حَلاَلاً أَطَاعَتْهُ جَوَارِحُهُ وَوُفِّقَتْ لِلْخَيْرَاتِ.
    Barangsiapa makan harta yang haram, maka tubuhnya akan maksiat suka atau tidak suka, tahu atau tidak tahu. Dan barang siapa yang makanannya halal maka tubuhnya akan membuatnya selalu taat dan tubuhnya tersebut akan dibantu Allah untuk menjalankan perbuatan-perbuatan yang baik.
    إحْيَاء علُوم الدين جز 2 ص 90
    قَالَ صَلَى اللهُ عَلَيه وَسَلَّم كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ أَولَى بِهِ
    Nabi Muhammad SAW bersabda: setiap daging yang timbul dari harta yang haram maka neraka lebih utama baginya.
http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutKaya Dengan Jalan Haram

hukum khutbah dengan menghujat

Diposkan oleh Bany adam

  1. Hukum dari shalat Jum'at jika khutbah yang disampaikan oleh khotib berisi hal-hal yang kurang baik, misalnya menghujat atau menjelek-jelekkan seseorang, adalah tidak sah; sebab salah satu dari rukum khuthbah adalah memberi wasiat untuk berbuat taqwa, sedang khutbah itu adalah salah satu dari fardlu Jum'at, sehingga sholat Jum'at tidak sah tanpa khutbah. Jadi apabila kita melakukan sholat Jum'at, kemudian kita ketahui bahwa khotib dalam khutbahnya menghujat atau menjelek-jelekkan orang lain, maka setelah sholat Jum'at tersebut selesai, kita harus mengulang dengan melakukan sholat dhuhur (sholat mu'adah).
    Dasar Pengambilan:
    1. Kifayatul Akhyar juz 1 halaman 148:
      وَفَرَائِضُهَا ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: خُطْبَتَانِ يَقُوْمُ فِيْهِمَا وَيَجْلِسُ بَيْنَهُمَا .
      Kewajiban menjalankan shalat Jum'at itu ada tiga perkara: dua khutbah yang dilakukan dengan berdiri dan duduk di antara kedua khutbah.
    2. Kifayatul Akhyar juz 1 halaman 149:
      وَلِلْخُطْبَةِ خَمْسَةُ أَرْكَانٍ … الثَّالِثُ الْوَصِيَّةٌ بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى.
      Khutbah itu mempunyai lima rukun ...
      Yang ketiga adalah berwasiat dengan taqwa kepada Allah ta'ala.
  2. Orang yang berkeyakinan bahwa "basmalah" itu adalah salah satu ayat dari surat Fatihah seperti orang yang bermadzhab Syafi'i tidak sah makmum dengan orang yang sengaja tidak membaca basmalah dalam membaca Fatihah, seperti orang yang bermadzhab Hanafi.
    Dasar Pengambilan:
    1. Kitab Tausyih halaman 56:
       
      عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبٍيَّ صلى الله عليه وسلم عَدَّ بسم الله الرحمن الرحيم آيَةً .
      Telah diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah menghitung "Bismillaahir Rahmaanir Rahiim" satu ayat dari Fatihah.
    2. Kitab Ihya' Ulumiddin juz 1 halaman 176:
       
      وَيَجْهَرَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ وَالأَخْبَارُ فِيْهِ مُتُعَارِضَةٌ وَاخْتَارَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْجَهْرَ .
      Dan hendaknya imam mengeraskan bacaan "Bismillaahir Rahmaa-nir Rahiim". Sedangkan hadits-hadits dalam hal mengeraskan ini saling bertentangan, dan Imam Asy-Syafi'i ra. memilih mengeraskan.

       
    3. Kitab Kasyifatus Saja halaman 84:
       
      لَوْ عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ الإِمَامَ الْحَنَفِيَّ مَثَلاً تَرَكَ الْبَسْمَلَةَ بِأَنْ لَمْ يَسْكُتْ بَعْدَ الإِحْرَامِ بِقَدْرِهَا فَلاَ يَصِحُّ اقْتَدَاؤُهُ .
      Andaikata makmum mengetahui atau menyangka bahwa imam yang bermadzhab Hanafi misalnya, dia meninggalkan basmalah dengan tidak diam sesudah takbiratul ihram sekedar bacaan basmalah, maka tidak sah makmum kepadanya.
  3. Air sumur tersebut sebaiknya diperiksakan dahulu ke laboratorium. Jika ternyata air sumur tersebut tidak tercemar oleh kakus atau WC yang ada didekatnya, dan bau tidak enak dari air sumur tersebut hanya karena jarang atau lama tidak dipakai, maka hukumnya tetap suci dan mensucikan dan dapat dipakai untuk berwudlu.
    Dasar Pengambilan:
    Kitab Nihayatuz Zain halaman 14:
    فَلاَ يَضُرُّ الْمَاءَ تَغْيِيْرُهُ بِطُوْلِ الْمُكْثِ وَلاَ بِالْمُجَاوِرِ الطَّاهِرِ وَلَوْ كَانَ التّغْيِيْرُ كَثِيْرًا.
    Maka tidaklah merusak kesucian air, perubahan dari bau air tersebut sebab lama tidak dipakai atau sebab berdampingan dengan barang yang suci, meskipun perubahan tersebut adalah banyak.
    http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
     
More abouthukum khutbah dengan menghujat

Shalat Jum'at Beda Madzhab

Diposkan oleh Bany adam

Jika makmum mengetahui bahwa imamnya telah mengerjakan apa-apa yang wajib dilakukan dalam shalat Jum’at menurut makmum, maka Jum’atannya sah. Demikiian pula jika makmum tidak mengetahui imamnya telah melakukan hal-hal yang membatalkan shalat.

Dasar pengambilan:

Kitab Ghoyatu Talkhisil Murad, Ibnu Ziyad, Hamisy Bughyatul Mustarsyidin, Mesir, Musthofa Al Babil Al Halabi, t..t., hal. 99:
مَسْئَلَةٌ : تَصِحُّ الْقُدْوَةُ بِالْمُخَالِفِِ إِذَا عَلِمَ الْمَأْمُوْمُ إِتْيَانَهُ بِمَا يَجِبُ عِنْدَهُ ، وَكَذَا إِنْ جَهِلَ .
"Masalah: Sah makmum dengan orang yang berbeda madzhab jika makmum mengetahui imam melakukan apa-apa yang wajib menurut makmum; demikian pula jika makmum tidak mengetahui".
Kasyifatus Saja, Muhammad Nawawi Al Jawi, Syirkatul Ma’arif, Bandung, t.t. hal.84:
أَحَدُهَا أنْ لاَ يَعْلَمَ وَأَنْ لاَ يَظُنَّ ظَنًّا غَالِبًا بُطْلاَنَ صَلاَةَ إِمَامِهِِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ، فَلاَ يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ بٍمًنْ يَظُنُّ بُطْلاَنَ صَلاَتِهِ كَََشَافِعِيٍّ اِقْتَدَى بِحَنَفِِيٍّ مَسَّ فَرْجَهُ ...إِلَى أَنْ قَالَ : وَلَوْ عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ الإِمَامَ الْحَنَفِيَّ مَثَلاً تَرَكَ الْبَسْمَلَةَ بِأَنْ لَمْ يَسْكُتْ بَعْدَ الإِحْرَامِ بِقَدْرِهَا فَلاَ يَصِحُّ اقْتِدَاؤُهُ بِهِ .
"Salah satu dari sebelas syarat makmum adalah agar makmum tidak menge-tahui dan tidak menduga dengan dugaan yang kuat akan kebatalan dari shalat imam-nya sebab hadats atau lainnya. Maka tidak sah makmum dengan orang yang disang-ka batal shalatnya, seperti seseorang yang bermadzhab Syafi’i yang makmum dengan seseorang yang bermadzhab Hanafi yang menyentuh kemaluannya … sampai ucapan pengarang: Andaikata makmum mengetahui atau menyangka bahwa imam yang bermadzhab Hanafi misalnya, meninggalkan bacaan “basmalah” dengan cara tidak diam sesudah takbiratul ihram sekedar “basmalah”, maka tidak sah makmum dengan dia."
http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/

More aboutShalat Jum'at Beda Madzhab

sholat dhuhur setelah diselenggarakan sholat Jum'at karena ta'addud

Diposkan oleh Bany adam

Jika melakukan sholat dhuhur setelah diselenggarakan sholat Jum'at itu karena ta'addud (jumlah sholat Jum'at yang diselenggarakan di satu kampung lebih dari satu), maka hukumnya ditafsil:
  • Apabila bilangan jama'ah sholat Jum'at kurang dari 40 orang yang memenuhi syarat, maka wajib sholat dhuhur.
  • Apabila memenuhi syarat-syarat ta'addud, maka hukumnya sunnat melakukan sholat dhuhur, untuk menghindarkan diri dari perbedaan pendapat.

Dasar Pengambilan

بغية المسترشدين ص 80 ( مسئلة ي ) مَتَى كَمُلَتْ شُرُوْطُ الْجُمُعَةِ بِأَنْ كَانَ كُلٌّ مِنَ الْأَرْبَعِيْنَ ذَكَرًا حُرًّا مُكَلَّفًا مُسْتَوْطِنًا بِمَحَلِّهَا لاَ يَنْقُصُ فِيْهَا شَيْئًا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلاَةِ وَشُرُوْطِهَا وَلاَ يَعْتَقِدُهُ سُنَّةً وَلاَ يَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ وَلاَ يَبْدِلُ حَرْفًا بِأَخَرَ وَلاَ يَسْقُطُهُ وَلاَ يَزِيْدُ فِيْهَا مَا يُغَيِّرُ الْمَعْنَي وَلَا يُلْحِنُ بِمَا يُغَيِّرُهُ وَإِنْ لَمْ يَقْصُرْ فِيْ التَّعَلُّمِ, كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرَ خِلاَفًا لم ر لَمْ تَجُزْ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا بِخِلاَفِ مَا إِذَا وَقَعَ فِيْ صِحَّتِهَا خِلاَفٌ وَلَوْ فِيْ غَيْرِ الْمَذْهَبِ فَتُسَنُّ إِنْ صَحَّتِ الظُّهْرُ عِنْدَ ذَالِكَ الْمُخَالِفِ كَكُلِّ صَلاَةٍ وَقَعَ فِيْهَا خِلاَفٌ غَيْرُ شَادٍ.وَيَلْزَمُ الْعَالِمُ إِذَاَ اسْتُفْتِيَ فِيْ إِقَامَةِ الْجُمْعَةِ مَعَ نَقْصِ الْعَدَدِ أََنْ يَقُوْلَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ لاَ يَجُوْزُ ثُمَّ إِنْ لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ وَلاَ تَسَاهُلٌ جَازَ لَهُ أَنْ يُرْشِدَ مَنْ أَرَادَ الْعَمَلَ بِالْقَوْلِ الْقَدِيْمِ إِلَيْهِ وَيَجُوْزُ لِلْإِمَامِ إِلْزَامُ تَارِكِ الْجُمْعَةِ كَفَّارَةً إِنْ رَأَهُ مَصْلَحَةً وَيُصَرِّفُهَا لِلْفُقَرَاءِ اه وَعِبَارَةُ ك وَإِذَا فَقَدَتْ شُرُوْطُ الْجُمْعَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ لَمْ يَجِبْ فِعْلُهَا بَلْ يَحْرُمُ حِنَئِذٍ لِأَنَّهُ تَلْبَسُ بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فَلَوْ كَانَ فِيْهِمْ أُمِّيٌّ تَمَّ الْعَدَدُ بِهِ لَمْ تَصِحَّ وَإِنْ لَمْ يَقْصُرْ فِيْ التَّعَلُّمِ كَماَ فِيْ التُّحْفَةِ خِلاَفاً لِشَرْحِ الْإِرْشَادِ وم ر بِخِلاَفِ مَا لَوْ كَانُوْا كُلُّهُمْ أُمِّيِّيْنَ وَالْإِمَامُ قَارِئٌ فَتَصِحَُّ وَإِذَا قَلَّدَ الشَّافِعِيَّ مَنْ يَقُوْلُ بِصِحَّتِهَا مِنَ الْأَئِمَّةِ مَعَ فَقْدِ بَعْدِ شُرُوْطِهَا تَقْلِيْدًا صَحِيْحًا مُسْتَجْمِعًا لِشُرُوْطِهِ جَازَ فِعْلُهَا بَلْ وَجَبَ حِنَئِذٍ ثُمَّ يُسْتَحَبُّ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا وَلَوْ مُنْفَرِدًا خُرُوْجًا مِنْ خِلاَفِ مَنْ مَنَعَهَا إِذِالْحَقُّ أَنَّ الْمُصِيْبَ فِيْ الْفُرُوْعِ وَاحِدٌ وَالْحَقُّ لاَ يَتَعَدَّدُ فَيَحْتَمِلُ أَنَّ الَّذِيْ قَلَّدَهُ فِيْ الْجُمُعَةِ غَيْرُ مُصِيْبٍ وَهَذَا كَمَا لَوْ تَعَدَّدَتِ الْجُمُعَةُ لِلْحَاجَةِ فَإِنَّهُ لِكُلِّ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ سَبْقَ جُمُعَتِهِ أَنْ يُعِيْدَهَا ظُهْرًا, وَكَذَا إِنْ تَعَدَّدَتْ لِغَيْرِ حَاجَةٍ وَشَكَّ فِيْ الْمَعِيَّةِ فَتَجِبُ إِعَادَتُهَا جُمُعَةً إِذِ الْأَصْلُ عَدَمُ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ وَتُسَنُّ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا أَيْضًا إِحْتِيَاطًا _ إِلَي أَنْ قَالَ – قَدْ صَرَحَ أَئِمَّتُنَا بِنَدْبِ إِعَادَةِ كُلِّ صَلاَةٍ وَقَعَ خِلاَفٌ فِيْ صِحَّتِهَا وَلَوْ مُنْفَرِدًا, وَمَنْ قَالَ إِنَّ الْجُمُعَةَ لاَ تُعَادُ ظُهْرًا مُطْلَقًا لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُوْجِبْ سِتَّةَ فُرُوْضٍ فِيْ الْيَوْمِ وَالليْلَةِ فَقَدْ أَخْطَأَ.أه.
( Masalah Ya' ) "Tatkala syarat-syarat sholat jum'at sudah sempurna, dengan adanya empat puluh orang laki-laki merdeka, yag mukallaf, berdomisili ditempatnya, dan masing-masing tidak mengurangi sedikitpun dari rukun-rukun sholat dan syarat-syaratnya dan tidak meyakininya sebagai sholat sunah dan tidak mengharuskan meng qodho' sholat tersebut dan imam tidak mengganti sesuatu huruf dengan yang lain dan tidak menggugurkannya dan tidak menambah didalam sholat sesuatu yang merubah ma'na dan tidak melagukan huruf dengan sesuatu yang merubah ma'na meskipun orang mukallaf tersebut tidak teledor dalam belajar. Sebagaimana pendapat Ibnu Hajar berbeda dengan pendapat imam Romli. Maka tidak boleh mengulangi sholat jum'at tersebut dengan sholat dhuhur berbeda dengan apa yang apabila terjadi dalam keabsahan jum'at sesuatu perbedaan ( pendapat ) meskipun dalam madzhab lain, maka disunnahkan I'adah jika sholat dzuhur telah sah menurut orang yang bebeda pendapat tersebut seperti setiap sholat yang terjadi padanya perbedaan pendapat yang tidak menyimpang. Orang alim apabila dimintai fatwa mengenai pendirian sholat jum'at beserta kekurangan bilangan jama'ah sholat jum'at harus mengucapkan : "madzhab Syafi'i tidak membolehkan", kemudian apabila tidak terjadi padanya suatu kerusakan kerusakan dan bermalas-malasan pada (si alim), maka boleh baginya untuk memberi petunjuk kepada orang yang ingin mengerjakan dengan qaul qadim kepadanya dan bagi kepala pemerintahan boleh mengharuskan orang yang meninggalkan sholat jum'at membayar kifarat jika imam melihatnya sebagai kemaslahatan ( kebaikan ) dan mentasarufkan hasil kifarat tersebut kepada orang-orang fakir. Menurut ibarat syeh Sulaiman al-Kurdi:"apabila syarat-syarat sholat jum'at itu tidak didapati menurut madzhab Syafi'i maka tidak wajib mengerjakan sholat jum'at bahkan haram karena hal itu menjumbokan dengan ibadah yang rusak. Apabila dalam jama'ah sholat jum'at terdapat orang yang buta huruf al-Qur'an yang menjadi hitungan kesempurnaan jama'ah jum'at, maka sholat jum'at tersebut tidak sah meskipun orang yang buta huruf tersebut tidak teledor dalam belajar agama, sebagaimana keterangan dalam kitab Tuhfah yang berbeda dengan keterangan dalam syarah al-Irsyad dan imam ar-Romli, berbeda dengan apa yang apabila jama'ah keseluruhannya adalah orang-orang yang buta huruf al-Qur'an sedang imamnya dapat membaca al-Qur'an maka sholat jum'ahnya sah jika orang yang yang taklid kepada imam as-Syafi'i dari para imam berpendapat dengan kebsahannya sholat jum'at beserta ketiadan sebagian dari syarat-syarat orang jum'at dengan taklid yang benar yang mengumpulkan syarat-sarat taklid, maka boleh melakukan sholat jum'at bahkan wajib. Kemudian disunnahkan mengulangi sholat jum'at tersebut dengan sholat duhur meskipun sendirian karena keluar dari berbeda pendapat dengan orang yang melarang sholat jum'at tersebut. Karena yang benar bahwa apa yang sesuai dalam furu' itu adalah satu dan yang benar sholat jum'at itu tidak boleh berbilang. Maka dimungkinkan bahwa orang yang bertaklid kepada imam Syafi'i mengenai sholat jum'at itu adalah tidak sesuai. Ini adalah sebagaimana apabila sholat jum'at itu berbilang karena hajat, maka sesungguhnya bagi setiap orang yang tidak mengetahui sholat jum'atnya telah didahului sholat jum'at yang lain hendaklah mengulangi sholat jum'at tersebut dengan sholat duhur dan demikian pula apabila sholat jum'at tersebut berbilang tanpa hajat dan dia ragu-ragu mengenai sholat jum'at yang menyertainya maka wajib mengulangi sholat jum'at itu dengan sholat jum'at lagi karena hukum asal adalah meniadakan terjadinya sholat jum'at yang mencukupi syarat dan disunatkan mengulangi sholat jum'at dengan sholat duhur juga karena berhati-hati…sampai ucapan pengarang: Para imam kita telah menjelaskan dengan kesunnatan mengulangi setiap sholat yang dalam keabsahannya terjadi perbedaan pendapat meskipun sholatnya itu sholat sendirian dan orang yang berpendapat bahwa sesungguhnya sholat jum'at itu tidak boleh diulangi dengan sholat dhuhur secara mutlak karena sesungguhnya Allah ta'ala tidak mewajibkan enam kewajiban dalam sehari semalam maka orang tersebut benar-benar telah berbuat salah.
Apabila tidak memenuhi syarat-syarat ta'adud, maka di tafsil:
  • Jika takbirotul ihromnya bersamaan atau diragukan, apakah bersamaan atau ada yang mendahului, maka wajib mengulangi jum'atan lagi secara bersama-sama selama waktu sholat masih mencukupi. Jika tidak, maka jama'ah kedua masjid tersebut harus melakukan sholat dhuhur.
  • Jika takbirotul ihromnya berurutan, maka jum'atan yang takbirotul ihromnya paling dahulu, hukumnya sah, dan sunnah i'adah ( mengulangi ) sholat dzuhur. Sedang yang lain batal, dan wajib melakukan sholat dzuhur.
  • Jika takbirotul ihromnya ada yang mendahului tapi tidak jelas mana yang lebih dahulu, atau sudah jelas tetapi lupa, maka semuanya wajib melakukan sholat dzuhur.
Dasar Pengambilan:
I'anatut tholibin juz II hal. 72-74
فَلَوْ سَبَقَهَا بِهِ جُمُعَةٌ صَحَّتْ الْجُمُعَةُ السَّابِقَةُ لاِجْتِمَاعِ شَرَائِطِهَا وَالَّاحِقَةُ بَاطِلَةٌ, فَيَجِبُ أَنْ تُصَلَّى ظُهْرًا أَوْ قَارَنَهَا جُمُعَةٌ أُخْرَى يَقِيْنًا أَوْ شَكًّا بَطَلَتْ الْجُمُعَتَانِ لِأَنَّ إِبْطَالَ إِحْدَاهُمَا لَيْسَ بِاُوْلَى مِنَ الْأُخْرَى فَوَجَبَ إِبْطَالُهُمَا.وَلِأَنَّ الْأََصْلَ فِىْ صُوْرَةِ الشَّكِّ عَدَمُ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ، وَتَجِبُ حِيْنَئِذٍ إِسْتِئْنَافُهَا جُمُعَةً إِنْ وَسِعَ الْوَقْتُ وَ إِلاَّ وَجَبَ أَنْ يُصَلُّوْا ظُهْرًا, فَإِنْ سَبَقَتْ إِحْدَاهُمَا وَالْتَبَسَتْ بِالْأُخْرى, كَأَنَْ سَمِعَ مَرِيْضَانِ أَوْ مُسَافِرَانِ خَارِجَ الْمَسْجِدِ تَكْبِيْرَتَيْنِ مَثَلاً فَأََخْبَرَا بِذَالِكَ وَلَمْ يَعْرِفَا الْمُسْتَقْدِمَةَ مِمَّنْ وَقَعَتْ صَلَّوْا كُلُّهُمْ ظُهْرًا. ( وَالْحَاصِلُ ) لِهَذِهِ الْمَسْئَلَةِ خَمْسَةُ أَحْوَالٍ: اَلْحَالَةُ الْأُوْلَى : أَنْ يَقَعَا مَعَا, فَيَبْطُلاَنِ فَيَجِبُ أَنْ يَجْتَمِعُوْا وَ يُعِيْدُوْهَا عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ اَلْحَالَةُ الثَّانِيَةُ : أَنْ يَقَعاَ مُرَتِّبًا فَالسَّابِقَةُ هِيَ الصَّحِيْحَةُ, وَالَّاحِقَةُ بَاطِلَةٌ فَيَجِبُ عَلَى أَهْلِهَا صَلاَةُ الظُّهْرِ اَلْحَالَةُ الثَّالِثَةُ : أَنْ يُشَكَّ فِىْ السَّبْقِ وَالْمَعِيَّةِ فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْتَمِعُوْا وَ يُعِيْدُوْهَا جُمُعَةً عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ فِىْ حَقِّ كُلٍّ مِنْهُمْ. اَلْحَالَةُ الرَّابِعَةُ : أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَلَمْ تُعْلَمْ عَيْنُ السَّابِقَةِ فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ الظُّهْرُ لِأَنَّهُ لاَ سَبِيْلَ إِلَى إِعَادَةِ الْجُمُعَةِ مَعَ تَيَقُّنِ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ صَحِيْحَةٍ فِىْ نَفْسِ الْأَمْرِ لَكِنْ لَمَّا كَانَتِ الطَّائِفَةُ الَّتِيْ صَحَّتْ جُمُعَتُهَا غَيْرَ مَعْلُوْمَةٍ وَجَبَ عَلَيْهِمْ الظُّهْرُ. اَلْحَالَةُ الْخَامِسَةُ: أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَ تُعْلَمَ عَيْنُ السَّابِقَةِ وَلَكِنْ نُسِيَتْ وَهِيَ كَالْحَالَةِ الرَّابِعَةِ.
Seandainya telah mendahului suatu sholat jum'at, maka sholat jum'at yang terlebih dahulu sah, karena terkumpul syarat-syaratnya dan sholat jum'at yang mengikutinya adalah batal maka wajib dilakukan sholat dzuhur, atau sholat jum'at yang lain berbarengan dengan sholat jum'at yang pertama secara yakin atau ragu-ragu maka kedua sholat jum'at tadi batal karena sesungguhnya membatalkan salah satu dari keduanya bukanlah lebih utama dari membatalkan yang lain sehingga wajib membatalkan keduanya . Karena yang asal dalam bentuk keraguan adalah ketiadaan sholat jum'at yang mencukupi. Dan ketika itu wajib memulai lagi sholat jum'at jika waktunya luas, jika tidak maka mereka wajib sholat dzuhur. jika salah satunya mendahului dan jumbo dengan sholat jum'at yang lain seperti apabila dua orang yang sakit atau dua orang musafir yang berada diluar masjid mendengar dua takbirotul ihrom misalnya dan keduanya memberitahukan hal tersebut sedang keduanya tidak mengetahui sholat jum'at yang lebih dahulu maka mereka semuanya sholat dhuhur. Wal hasil untuk masalah ini terdapat lima keadaan: apabila sholat jum'at terjadi bersama-sama maka keduanya batal sehingga wajib mereka mengulangi sholat jum'at pada saat waktunya mencukupi. Apabila kedua sholat itu terjadi berurutan maka sholat yang mendahului adalah sholat yang sah dan yang mengikuti adalah batal sehingga wajib bagi jama'ah yang melakukan sholat kedua melakukan sholat dhuhur. Apabila diragukan mengenai yang mendahului dan yang mengikuti maka wajib atas mereka untuk berkumpul dan mengulanginya dengan sholat jum'at pada saat waktunya cukup karena hukum yang asal adalah tidak terjadinya sesuatu sholat jum'at yang mencukupi bagi hak setiap orang dari mereka. Apabila diketahui sholat yang mendahului dan tidak diketahui wujud yang mendahului maka wajib atas mereka melakukan sholat duhur karena sesungguhnya sama sekali tidak ada jalan untuk mengulangi sholat jum'at beserta keyakinan terjadinya sholat jum'at yang sah dalam urusan tersebut akan tetapi tatkala kelompok yang sah sholat jum'atnya tidak diketahui maka wajib atas mereka melakukan sholat dhuhur Apabila diketahui yang mendahului dan diketahui wujud yang mendahului akan tetapi lupa maka hal ini seperti keadaan yang keempat.
Jika melakukan sholat dzuhur, setelah diselenggarakannya sholat jum'at karena berkeyakinan bahwa sholat jum'at tidak menggugurkan sholat dzuhur, maka hukumnya tidak dibenarkan, bahkan menjadi kufur apabila meyakini bahwa pada hari jum'at sholat fardlunya menjadi enam kali dengan asal syara', apabila tidak maka dita'zir.
Dasar Pengambilan
I'anatut Tholibin Juz II hal. 63
( لَطِيْفَةٌ ) سُئِلَ الشَّيْخُ الرَّمْلِى رَحِمَهُ اللهُ عَنْ رَجُلٍ قَالَ : أَنْتُمْ يَا شَافِعِيَّةُ خَالَفْتُمُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ لِأََنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَأَنْتُمْ تُصَلُّوْنَ اللهَ سِتًّا بِإِعَادَتِكُمُ الْجُمُعَةَ ظُهْرًا فَمَاذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ فِىْ ذَالِكَ، فَأَجَابَ بِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ كَاذِبٌ فَاجِرٌ جَاهِلٌ فَإِنِ اعْتَقَدَ فِى الشَّافِعِيَّةِ أَنَّهُمْ يُوْجِبُوْنَ سِتَّ صَلَوَاتٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ كُفْرٌ وَأَجْرَى عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْمُرْتَدِّيْنَ وَإِلاَّ اسْتَحَقَّ التَّعْزِيْرَ الْلاَّئِقَ بِحَالِهِ الرَّادِعِ لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ عَنِ ارْتِكَابِ مِثْلِ قَبِيْحِ أَفْعَالِهِ. وَنَحْنُ لاَ نَقُوْلُ بِوُجُوْبِ سِتِّ صَلَوَاتٍ بِأَصْلِ الشَّرْعِ وَإِنَّمَا تَجِبُ إِعَادَةُ الظُّهْرِ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ تَقَدُّمُ جُمُعَةٍ صَحِيْحَةٍ.
Syekh Ramli-Semoga Allah merahmatinya-ditanya tentang seorang laki-laki yang berkata :" Kalian wahai pengikut Syafi'i, kalian telah menyalahi Allah dan rasulnya karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah memfardlukan lima kali sholat sedangkan kalian sholat enam kali dengan kalian mengulangi sholat jum'at dengan sholat dzuhur, maka apakah yang menetapkan pada laki-laki tersebut dalam hal i'adah?"maka syekh Ramli menjawab bahwasannya laki-laki ini adalah orang yang dusta, durhaka lagi bodoh. Jika dia beri'tikad dalam madzhab Syafi'i bahwa mereka mewajibkan enam kali sholat menurut asal syari'at, maka dia kafir dan harus berlaku atasnya hukum-hukum orang yang murtad dan jika dia tidak meyakini kewajiban tersebut dia harus dita'zir yang sesuai dengan keadaannya yang dapat mencegah baginya dan bagi orang-orang yang seperti dia dari melakukuan seperti kejelekan perbuatan-perbuatannya. Kami tidak berpendapat dengan kewajiban enam sholat menurut asal syari'at; dan sesungguhnya kewajiban mengulangi sholat dhuhur hanyalah jika tidak diketahui sholat jum'at yang sah yang mendahuluinya.
Mengulangi sholat dzuhur karena beralasan khutbah yang memakai bahasa selain arab sementara rukun-rukunnya berbahasa arab, maka hukumnya tidak dibenarkan.
Dasar Pengambilan
Raudhotus Tholibin oleh Imam Nawawi Juz I Hal. 418.
وَهَلْ يُشْتَرَطُ كَوْنُ الْخُطْبَةِ كُلُّهَا بِالْعَرَبِيَّةِ ؟ وَجْهَانِ : اَلصَّحِيْحُ اشْتِرَاطُهُ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِمْ مَنْ يُحْسِنُ بِالْعَرَبِيَّةِ، خَطَبَ بِغَيْرِهَا. وَيَجِبُ أَنْ يَتَعَلَّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ الخُطْبَةَ الْعَرَبِيَّةَ، كَالْعَاجِزِ عَنِ التَّكْبِيْرِ بِالْعَرَبِيَّةِ. فَإِنْ مَضَتْ مُدَّةُ إِمْكَانِ التَّعْلِيْمِ وَلَمْ يَتَعَلَّمُوْا،عَصَوْا كُلُّهُمْ، وَلاَ جُمْعَةَ لَهُمْ.
"Dan apakah disyaratkan keadaan khutbah semuanya berbahasa Arab ? dalam hal ini ada dua pendapat: pendapat yang benar mensyaratkan keadaan khutbah tersebut berbahasa Arab. Dan jika dalam jama'ah jum'at tersebut tidak ada orang yang dapat berbahasa Arab yang bagus, maka khotib berkhutbah dengan selain bahasa Arab dan masing-masing orang dari jama'ah jum'ah wajib mempelajari khutbah berbahasa Arab seperti orang yang tidak mampu membaca takbir berbahasa arab. Jika telah lalu masa kemungkinan belajar sedang mereka tidak mau belajar maka semua jama'ah jumat berdosa dan sholat jum'at tidak sah".
Kifayatul Akhyar Juz I hal:122
السَّادِسُ:.........وَهَلْ يُشْتَرَطُ كَوْنُهَا عَرَبِيَّةً؟ الصَّحِيْحُ نَعَمْ نَنْقُلُ الْخَلَفَ مِنَ السَّلَفِ ذَالِكَ. وَقِيْلَ لاَ يَجِبُ لِحُصُوْلِ الْمَعْنَى. فَعَلَى الصَّحِيْحِ لَوْ لَمْ يَكُنْ فِِِيْهِمْ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ جَازَ بِغَيْرِهَا. وَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ أََنْ يَتَعَلَّمَهَا بِالْعَرَبِيَّةِكَالْعَاجِزِعَنِ التَّكْبِيْر ِبِالْعَرَبِيَّةِ. فَإِنْ مَضَتْ مُدَّةُ إِمْكَانِ التَّعْلِيْمِ وَلَمْ يَتَعَلَّمْ أََحَدٌ مِنْهُمْ عَصَوْا كُلُّهُمْ وَلاَجُمْعَةَ لَهُمْ بَلْ يُصَلُّوْنَ الظُّهْرَ، كَذَا قَالَهُ الرَّافِعِيُّ.
Yang keenam:.....dan apakah disyaratkan keadaan khutbah dengan bahasa Arab? Yang benar adalah ya. Kami menukil pendapat ulama' kholaf dari ulama' salaf dalam hal tersebut. Dan dikatakan tidak wajib berbahasa Arab, karena keberhasilan pengertian. Menurut pendapat yang benar adalah andaikata dalam jama'ah tidak ada orang dapat berbahasa Arab dengan baik, maka boleh menggunakan bahasa lain. Dan wajib atas setiap orang belajar khutbah dengan bahasa Arab seperti orang yang tidak mampu takbirotul ihrom dengan bahasa Arab. Jika masa yang memungkinkan belajar telah lewat dan salah seorang diantara mereka tidak belajar maka semuanya berdosa dan tidak sah bagi mereeka melakukan sholat jum'at tetapi wajiib bagi mereka melakukan sholat dzuhur. Demikianlah yang telah dikatakan Imam Rofi'i".
Hamisy al-Muhibah dzil fadl Juz III hal: 231
( قَوْلُهُ وَكَوْنُهَمَا أَيْ الْخُطْبَتَيْنِ بِالْعَرَبِيَّةِ ) أَيْ الْأَرْكَانُ كَمَا فِى النِّهَايَةِ وَغَيْرِهَا زَادَ فِى التُّحْفَةِ دُوْنَ مَا عَدَاهَا، قَالَ ابْنُ قَاسِمِ يُفِيْدُ أَنَّ كُوْنَ مَاعَدَا الْأَرْكَانِ مِنْ تَوَابِعِهَا بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لاَ يَكُوْنُ مَانِعًا مِنَ الْمُوَالاَةِ.
( Perkataan mushonnif Keadaan dua khutbah menggunakan bahasa Arab ) artinya rukun-rukun khutbah sebagaimana tersebut dalam kitab An-Nihayah dan lainnya. Dalam kitab at Tuhfah mushonnif menambahkan: "bukan selain khutbah" Ibnu Qosim berkata bahwa keadaan selain rukun-rukun memberi faedah terhadap hal-hal yang mengikuti khutbah tanpa berbahasa Arab tidaklah mencegah muwalat.

http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutsholat dhuhur setelah diselenggarakan sholat Jum'at karena ta'addud

hukum zakat tijaroh sebelum haul

Diposkan oleh Bany adam

 hukumnya mengeluarkan zakat tijaroh sebelum haul sebelum masuk satu tahun  adalah boleh
 asalkan yang menerima tersebut tetap mempunyai sifat mustahiq sampai waktu wajibnya, sehingga apabila yang menerima tersebut menjadi berubah (tidak mempunyai syarat sebagai mustahiq) pada waktu wajibnya, maka apabila muzakki pada waktu memberikan zakat mu’ajjalah itu memberitahukan bahwa zakat mu’ajjalah, maka muzakki boleh meminta kembali zakat tadi.

Dasar Pengambilan Dalil

Muhadzab, I: 174

وإن عجل الزكاة فدفها إلى فقير فمات الفقير أو ارتد قبل الحول لم يجزه المدفوع عن الزكاة، وعليه أن يخرج الزكاة ثانيا، فإن لم يبين عند الدفع أنهازكاة معجلة لم يرجع وإن بين رجع .... الخ
Jika seseorang melakukan ta’jil zakat (mendahulukan zakat sebelum waktunya) kemudian diberikan kepada orang fakir, lalu orang fakirnya meninggal dunia, atau ia murtad sebelum haul (masuk waktunya wajib zakat). Maka apa yang diberikan (atas nama zakat tadi) tidak mencukupinya sebagai zakat. Dan bagi yang memberikan wajib, mengeluarkan zakat lagi ( yang kedua ). Jika dirinya tidak menjelaskan (pada waktu memberinya) bahwa itu zakat yang didahulukan (ta’jiluz zakat) maka ia tidak boelh meminta kembali (yang telah diberikan) namun apabila ia waktu member menyatakan: ini ta’jiluz zakat maka ia boleh meminta kembali (ganti rugi).
http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More abouthukum zakat tijaroh sebelum haul

zakat usaha perniagaanmodel sekarang

Diposkan oleh Bany adam

zakat usaha perniagaanmodel sekarang seperti perhotelan,otomotif
Perniagaan jasa seperti perhotelan pengangkutan dan sesamanya, adalah termasuk ijaroh yang mengandung arti tijaroh, maka wajib zakat.

Dasar Pengambilan Dalil

Kifayatu al-akhyar, I: 178

ولو أجر الشخص ماله أونفسه وقصد بالأجرة إذا كانت عرضاللتجارة تصير مال تجارة، لأن الإجارة معاوضة.
Jika seseorang memperkerjakan dirinya atau hartanya dengan tujuan dapat ongkos ketika jadi harta untuk tijaroh (perdagangan) maka jadilah harta perdagangan, karena ongkos adalah mu’awadloh.

Al-Mauhibah, IV: 31 (belum ketemu)

Al-Majmu’, VI: 49

ومن أجر نفسه أو شخصا أخر بعوض من العروض بقصد التجارة صار ذلك العرض مال تجارة فتجب الزكاة.
Siapapun yang mempekerjakan dirinya atau orang lain dengan ongkos atau ganti rugi harta dengan tujuan berdagang, maka jadilah harta perdagangan. Dan wajib mengeluarkan zakat.

http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutzakat usaha perniagaanmodel sekarang

Memberikan zakat kepada masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan sosial

Diposkan oleh Bany adam


Memberikan zakat kepada masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan sosial, keagamaan dan lain-lain tidak boleh.
Akan tetapi ada pendapat Imam Qofal menukil dari sebagian ahli fiqih, zakat boleh ditasarufkan kepada sektor-sektor tersebut diatas, atas nama sabilillah.

Dasar Pengambilan Dalil

Bughyatu al-murtasyidin: 106

لايستحق المسجد شيئا من الزكاة مطلقا، إذلايجوز صرفها إلا لحر مسلم، ومثله مافى المزان الكبرى فى الجزء الثانى من باب قسم الصدقات، وعبارته: إتفق الأئمة الأربعة على أنه لايجوز أخراج الزكاة لبناء مسجد أوتكفين ميت.
Masjid tidak berhak sedikit pun secara mutlak mengambil bagian zakat, karena tidak boleh mentasarufkan zakat kecuali pada orang yang merdeka yang muslim, begitu juga yang ada dalam kitab Mizan Kubro.

Tafsir munir, I: 344

ونقل القفال من بعض الفقاء أنهم أجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير، من تكفين ميت وبناء الحصون وعمارة المساجد، لأن قوله تعالى "فى سبيل الله" فى الكل.
Imam Al-Qofal menukil dari sebagian ahli fiqih, bahwa mereka memperbolehkan mentasarufkan sodaqoh (zakat) kepada segala sektor kebaikan, seperti: mengkafani mayat, membangun pertahanan, membangun masjid dst. Karena kata-kata sabilillah itu mencakup umum (semuanya).

http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutMemberikan zakat kepada masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan sosial

hukumzakat uang kertas,cek dan saham-saham

Diposkan oleh Bany adam

Uang kertas, cek, obligasi, saham-saham perusahaan dan sesamanya, apabila telah mencapai seharga emas satu nisob dan telah haul, maka wajib zakat seperti emas.

Dasar pengambilan dalil

Ahkamul Fuqoha, I: 57 (belum ketemu)

Al-Mauhibah , IV

Al-fiqih ala madzibil arba’ah, I: 605

جمهور الفقهاء يرون وجوب الزكاة فى الأوراق المالية، لأنهاحالت محل الذهب والفضة فى التعامل.
Jumhurul fuqoha (pembesar orang-orang ahli fiqih), memandang kewajiban zakat terhadap kertas berharga, karena ia diposisikan sebagaimana emas dan perak dalam transaksi.

http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More abouthukumzakat uang kertas,cek dan saham-saham

Hukum memotong hewan dengan mesin

Diposkan oleh Bany adam


Hukum memotong hewan dengan mesin adalah halal, jika mesin dan cara memotongnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  • Pemotongnya seorang muslim/ahlu kitab yang asli
     
  • Alat mesin yang dipergunakan, merupakan benda tajam yang bukan dari tulang atau kuku
     
  • Sengaja menyembelih hewan tersebut

Dasar Pengambilan Dalil

Bujairomi wahab, IV: 286

وشرط فى الذبح قصد اى قصد العين أو الجنس بالفعل (قوله قصد العين) وإن أخطأفى ظنه، أو الجنس فى الإصابة – ح ل – والمرد بقصد العين أو بالجنس بالفعل أى قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح.
Syarat dalam memotong hewan: menyengaja terhadap hewannya atau jenisnya dengan perbuatan (kata-kata menyengaja pada hewan), meskipun keliru dalam persangkaannya atau jenisnya dalam kenyataannya ... artinya menyengaja ialah: sengaja terhadap hewan itu atau jenisnya walupun tidak sengaja menyembelih.

Jamal Wahab V/241-242

وشرط في الآلة كونها محددة بفتح الدال المشددة أى ذات حدة تجرح كحديد أى كمحدد حديد وقصب وحجر ورصاص وذهب وفضة إلا عظما كسن وظفر لخبر الشيخين: ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه ليس السنّ والظفر وألحق بهما باقي العظام
Syarat alat untuk menyembelih harus tajam yang bisa melukai seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali (tidak boleh) dengan tulang dan kuku. Dengan dasar hadits shohih bukhori dan muslim: sesuatu yang dapat mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah maka makanlah selama bukan dengan tulang dan kuku. dan disamakan dengan keduanya semua jenis tulang.
يعلم من قوله الآتى أو كونها جارية سباع او طير الخ ... حيث أطلق فيه ولم يشترط أن تقتله بوجه مخصوص. فيسفاد من الإطلاق أنه يحل مقتولها بسائر أنواع القتل.
Telah diketahui dari kata-kata yang akan datang adanya alat memotong hewan, dapat melukainya binatang atau burung dst. Sekira dimutlakkan dan tidak disyaratkan, cara membunuh dengan cara yang khusus, maka dapat diambil pengertian halal apa yang di bunuh binatang dengan segala cara membunuh.
http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutHukum memotong hewan dengan mesin

cara bersuci pada luka yang diperban

Diposkan oleh Bany adam

Permasalahan
Pada masa sekarang ini kebanyakan dokter mengobati luka-luka yang ada di dalam anggota wudlu dengan plester (jabiroh) yang tidak boleh dibuka sebelum sembuh, sedang pemakaiannya pada waktu hadast (tidak suci)

Kalau menurut kitab Kifayatul Akhyar Juz 1 hal 38 syarat-syaratnya berat, yakni:

Harus dalam keadaan suci

Pemasangan harus menurut tertibnya anggota yang dibasuh ketika wudlu

Banyaknya tayamum berulangkali menurut jumlah jabiroh di dalam anggota wudlu

Pertanyaan

Apakah ada qoul ringan, misalnya:

Pemasangan boleh pada saat hadats

Boleh tayamum setelah usai wudlu

Bertayamum hanya satu kali saja walaupun jabirohnya lebih dari satu


Jawaban

Ada pendapat yang ringan seperti yang tertera dalam kitab sbb:

Al-Mizan, I: 135

ومن ذلك قول الإمام الشافعى - من كان بعضو من أعضائه جرح اوكسر او قروح والصق عليه جبيرة وخاف من نزعها التلف انه يمسح على الجبيرة وتيمم مع قول أبى حنيفة ومالك انه ان كان بعض جسده صحيحا وبعضه جريحا ولكن الأكثر هو الصحيح غسله وسقط حكم الجريح ويستحب مسحه بالماء. وان كان الصحيح هو الأقل تيمم وسقط غسل العضو الصحيح وقال أحمد يغسل الصحيح وتيمم عن الجريح من غير مسح للجبيرة.

ووجه الأول الأخد بالإحتياط بزيادة وجوب مسح الجبيرة لما تأخذه من الصحيح غالباللا ستمساك. ووجه الثانى أنه اذاكان الأكثر الجريح القرح فالحكم له لأن شدة الألم حينئذ أرجح فى طهارة العضو من غسله بالماء فان الأمراض كفارات للخطايا.

Menurut imam Syafi'i: orang yang di anggauta wudlunya ada luka atau bengkak kemudian diperban dan ia takut mengusap perban dan bertayamum. Menurut imam hanafi dan malik: jika yang sakit lebih kecil daripada yang sehat, cukup membasuh yang sehat dan disunnahkan mengusap yang sakit. Apabila yang sehat lebih kecil, maka hanya wajib tayamum. Dan tidak wajib membasuh anggota yang sehat. Menurut imam ahmad, membasuh anggota yang wajib dan tayamum untuk sakit tidak wajib mengusap perban. Pendapat pertama mengambil langkah yang berhati-hati, dengan menambahkan: wajibnya mengusap tambal karena diambil pada anggota badan yang shohih/sehat secara umum untuk penanggulangan. Pendapat yang kedua, ketika yang lebih banyak itu luka atau koreng, maka hukum berada padanya. Karena parahnya sakit saat demikian, lebih diutamakan didalam pensucian anggota badan disbanding harus membasuh dengan air. Karena penyakit itu adalah menghapus terhadap kesalahan (dosa).

Al-Qalyubi, I: 97

( فان تعذر ) نزعه لخوف محذور مما ذكره فى شرح المهذب ( قضى ) مع مسحه بالماء ( على المشهور) لانتفاء شبهه حينئذ بالخف والثانى لايقضى للعذر والخلاف فى القسمين فيما اذا كان الساتر على غير محل التيمم فان كان على محله قضى قطعا لنقص البدل والمبدل جزم به فى أصل الروضة ونقله فى شرح المهذب ... الى ان قال: الاظهر انه ان وضع على طهر فلا اعادة والا وجبت. انتهى وعلى المختار السابق له لاتجب.

Apabila ada udzur untuk melepas ( tambal) seperti apa yang disebut dalam syarah muhadzab maka wajib mengqodoi shalatnya dan mengusapnya dengan air menurut yang mashur, karena hal ini tidak ada keserupaan, dengan pemakai muzah (alas kaki arab). Menurut pendapat yang kedua tidak perlu qodlo shalatnya ( bila dilakukan ) karena termasuk udzur, perbedaan pendapat di dalam dua kelompok tersebut, dalam mas'alah, penutup (tambal) yang terdapat selain anggota tayamum (seperti lengan/muka) maka jelas harus mengqodlo shalatnya, karena ada kurangnya antara pengganti dan yang diganti. Hal itu diyakini oleh imam nawawi didalam aslinya kitab Roudloh dan menukilnya didalam kitab syarah al-muhadzab, S/d .... Menurut yang adzhar, jika waktu memasang penutup (tambal) itu dalam kondisi suci, maka tidak perlu mengulang shalatnya, kalau tidak suci maka wajib mengulang. Menurut yang mashur ( terpilih ) yang dahulu tidak wajib.

Al-Qalyubi, I: 84

( فَإِنْ كَانَ ) مَنْ بِهِ الْعِلَّةُ ( مُحْدِثًا فَالْأَصَحُّ اشْتِرَاطُ التَّيَمُّمِ وَقْتَ غَسْلِ الْعَلِيلِ ) رِعَايَةً لِتَرْتِيبِ الْوُضُوءِ ، وَالثَّانِي يَتَيَمَّمُ مَتَى شَاءَ كَالْجُنُبِ لِأَنَّ التَّيَمُّمَ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ ، وَالتَّرْتِيبُ إنَّمَا يُرَاعَى فِي الْعِبَادَةِ الْوَاحِدَةِ .



( فَإِنْ جُرِحَ عُضْوَاهُ ) أَيْ الْمُحْدِثِ ( فَتَيَمُّمَانِ ) عَلَى الْأَصَحِّ الْمَذْكُورِ ، وَعَلَى الثَّانِي تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ ، وَكُلٌّ مِنْ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ كَعُضْوٍ وَاحِدٍ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يُجْعَلَ كُلَّ وَاحِدَةٍ كَعُضْوٍ.الشَّرْحُ: قَوْلُهُ: ( فَتَيَمُّمَانِ ) أَيْ إنْ وَجَبَ التَّرْتِيبُ بَيْنَهُمَا وَإِلَّا كَمَا لَوْ عَمَّتْ الْعِلَّةُ الْوَجْهَ وَالْيَدَيْنِ فَيَكْفِي لَهُمَا تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ عَنْهُمَا ، وَكَذَا لَوْ عَمَّتْ جَمِيعَ الْأَعْضَاءِ لِسُقُوطِ التَّرْتِيبِ .
http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutcara bersuci pada luka yang diperban

Shalat Rawatib Berjama'ah Mendapatkan Pahala

Diposkan oleh Bany adam


Shalat Rawatib Berjama'ah Mendapatkan Pahala
Sudah menjadi tradisi masyarakat melaksanakan sholat sunnah rowatib (qobliyah ba’diyah) secara berjama’ah. padahal sholat sunnah rowatib bukan termasuk sholat yang sunnah dilakukan secara berjama’ah.
 dalam masalah sholat seperti ini
          :  Ulama berbeda pendapat  :
Mendapat pahala berjama’ah.
Tidak mendapat pahala berjama’ah.
Mendapat pahala jika bertujuan ta’lim (mendidik) dan tidak menimbulkan persepsi bahwa hal tersebut disunnahkan.
Ta’bir            :  I’anatuth Tholibin juz I hal. 245.
                              Bughyatul Mustarsyidin hal. 67.

فى إعانة الطالبين 1/245 مانصه : (قوله لاتسن له جماعة) أى دائما وأبدا بأن لم تسن له أصلا أو تسن فى بعض الأوقات كالوتر فى رمضان قال فى النهاية : ولو صلى جماعة لم يكره انتهى. ونقل ع ش عن سم أنه يثاب عليها وقال ح ل لايثاب عليها قال البجيرمي واعتمد شيخنا ح ف كلام ح ل.وفى بغية المسترشدين ص 67 مانصه : (مسئلة ك) تباح الجماعة فى نحو الوتر والتسبيح فلاكراهة فى ذلك ولاثواب نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب وأي ثواب بالنية الحسنة فكمايباح الجهر فى موضع الإسرار الذى هو مكروه فأولى ما أصله الإباحة الى أن قال هذا إذا لم يقترن بذلك محذور كنحو إيذاء أو اعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم ويمنع منها  

http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/

More aboutShalat Rawatib Berjama'ah Mendapatkan Pahala

zakat tanaman dengan memProsentase dari Pupuk

Diposkan oleh Bany adam


Prosentase Pupuk Dengan Zakat
Deskripsi Masalah
Sebagaimana yang banyak diterangkan dalam kitab fiqih, biaya panen, pupuk dan semisalnya tidak diambilkan dari maluzzakat, akan tetapi hal yang semacam ini menimbulkan masalah yang tidak ringan bagi petani, seperti pada saat awal krisis kemarin, harga pupuk naik dan harga beras menurun, sehingga tidak sedikit petani yang merugi meskipun hasil panennya lebih dari satu nishob.
 

Pertanyaan :
  • Adakah qoul yang mengatakan biaya pemupukan, panen dan yang semisalnya bisa mempengaruhi prosentase pengeluaran zakat?
  • Jika biaya panen, pupuk dan semisalnya lebih banyak dari pada hasil panen, apakah masih wajib mengeluarkan zakat?  
Jawaban
Tidak ditemukan, namun menurut sebagian qoul kewajiban/tidak-nya zakat dan berapa yang harus dikeluarkan bisa dipengaruhi oleh biaya pengelolaan yang lebih besar daripada hasil panen atau hutang yang menghabiskan/ mengurangi hasil panenannya, bukan pengaruh masalah prosentasenya.
Tidak wajib, menurut sebagian qaul..
Ibarat
هامش قرة العين ص: 100
سئل t في أهل بلد يعتادون تسميد أشجارهم بدل السقاية ويرون أنها لنمو الثمرة من السقاية لها ويخرجون على ذلك خرج السقاية بل أكثر فهل يجب على مالك الأشجار العشر أو نصفه وأيضا هل يكره أكل الثمرة من أجل التسميد أم لا وكذلك إذا كانوا يعتادون تحريث أشجارهم بدل السقاية ما حكمه في وجوب الزكاة أفتونا مأجورين (أجاب) عفا الله بقوله التسميد والتحريث لا يغير حكم الواجب فيجب نصف العشر إن سيقت بمؤنة وإلا فالواجب العشر ولا يكره أكل الثمر المذكور وإن ظهر ريح النجس به والله سبحانه وتعالى أعلم

روضة الطالبين الجزء الثاني ص: 244
وأما القنوات والسواقي المحفورة من النهر العظيم ففيها العشر كماء السماء هذا هو المذهب المشهور الذي قطع به طوائف الأصحاب من العراقيين وغيرهم وادعى إمام الحرمين اتفاق الأئمة عليه لأن مؤنة القنوات إنما تتحمل لاصلاح الضيعة والأنهار تشق لإحياء الأرض وإذا تهيأت وصل الماء إلى الزرع بنفسه مرة بعد أخرى بخلاف النواضح ونحوها فمؤنتها فيها لنفس الزرع  ولنا وجه أفتى به أبو سهل الصعلوكي أنه يجب نصف الشعر في السقي بماء القناة وقال صاحب التهذيب إن كانت القناة أو العين كثيرة المؤنة بأن لا تزال تنهار وتحتاج إلى إحداث حفر وجب نصف العشر وإن لم يكن  لها مؤنة أكثر من مؤنة الحفر الأول وكسحها في بعض الأوقات فالعشر والمذهب ما قدمناه

مجموع شرخ  المهذب الجزء الخامس ص: 445
وأما ما سقي بالنضح أو الدلاء أو الدواليب وهي التي تديرها البقر أو بالناعورة وهي التي يديرها الماء بنفسه ففي جميعه نصف العشر وهذا كله لا خلاف فيه بين المسلمين وقد سبق نقل البيهقي الإجماع فيه وأما القنوات والسواقي المحفورة من نهر عظيم التي تكثر مؤنتها ففيها العشر كاملا هذا هو الصحيح المشهور المقطوع به في كتب العراقيين والخراسانيين ونقل إمام الحرمين اتفاق الأئمة عليه وعلله الأصحاب بأن مؤنة القنوات إنما تشق لإصلاح الضيعة وكذا الأنهار إنما تشق لإحياء الأرض وإذا تهيأت وصل الماء إلى الزرع بنفسه مرة بعد أخرى بخلاف النواضح ونحوها فإن المؤنة فيها لنفس الزرع ونقل الرافعي عن الشيخ أبي عاصم أنه نقل أن الشيخ أبا سهل الصعلوكي من أصحابنا أفتى أن ما سقي بماء القناة وجب فيه نصف العشر وقال صاحب التهذيب: إن كانت القناة أو العين كثيرة المؤنة لا تزال تنهار وتحتاج إلى إحداث حفر وجب نصف العشر وإن لم يكن لها مؤنة أكثر من مؤنة الحفر الأول وكسحها في بعض الأوقات وجب العشر قال الرافعي: والمذهب ما قدمناه عن الجمهور قال الرافعي: قال ابن كج: ولو اشترى ماء وسقى به وجب نصف العشر

العزيز شرح الكبيرالجزء الثالث ص:71
إذا عرفت ذلك فيجب فيما سقي بماء السماء من الثمار والزروع العشر وكذا البعل وهو الذي يشرب بعروقه لقربه من الماء وكذا ما يشرب من ماء ينصب إليه من جبل أو نهر أو عين كبيرة كل ذلك فيه العشر وما سقي بالنضح أو بالدلاء أو بالدواليب ففيه نصف العشر وكذا ما سقي بالدالية. قال في الصحاح: وهو المنجنون تدبرها البقر وما سقي الناعور وهو الذي يديره الماء بنسه لأنه تسبب إلى النزح كالاسيقاء بالدلاء والنواضح والمعنى الكلي الذي يقتضي التفاوت أن الزكاة مبني على الرفق بالمالك والمساكين, فإذا كثرت المؤنة خف الواجب أوسقط كما في المعلوفة وإذا خفت المؤنة كثر الواجب كما في الركاز وأما القنوات وفي معناها السواقي المحفورة من النهر العظيم إلىحيث يسوق الماء إليه فالذي ذكره في الكتاب أن السقي منها كاسقي بماء السماء وهذا هو الذي أورده طوائف الأصحات من العراقيين وغيرهم وعللوا بأن مؤنة القنوات إنما تتحمل لإصلاح الضيعة والأنهار تشق ِلإحياء الأرض فإذا تهيأت وصل الماء إلى الزرع بطبعه مرة بعد أخرى بخلاف السقي بالنواضح ونحوها فإن المؤنة ثم تتحمل لنفس الزرع. وادعى إمام الحرمين اتفاق الأئمة على هذا, لكن أبا عاصم العبادي ذكر في "الطبقات" أن أبا سهل الصعلوكي أفتى بأن المسقي من ماء القناة فيه نصف العشر لكثرة المؤنة وفصل حاحب "التهذيب" فقال: ن كانت القنة أو العين كثيرة المؤنة بأن كانت لا بزال تنهار وتحتاج إلى استحداث حفر فالمسقي بها كالمسقي بالسواقي وإن لم يكن لها مؤنة أكير من مؤنة الأول وكسحها في بعض الأوقات ففي السقي بها العشر والمشهور الأول

المغني لابن قدامة الجزء الثاني ص: 1832 (حنبلي)
فصل : الحكم الثالث أن العشر يجب فيما سقي بغير مؤنة كالذي يشرب من السماء والأنهار وما يشرب بعروقه وهو الذي يغرس في أرض ماؤها قريب من وجهها فتصل إليه عروق الشجر فيستغني عن سقي وكذلك ما كانت عروقه تصل إلى نهر أو ساقية ونصف العشر فيما سقي بالمؤن كالدوالي والنواضح لا نعلم في هذا خلافا وهو قول مالك والثوري والشافعي وأصحاب الرأي وغيرهم .والأصل فيه قول النبي r "فيما سقت السماء والعيون أو كان عثريا العشر وما سقي بالنضح نصف العشر" رواه البخاري قال أبو عبيد العثري ما تسقيه السماء وتسميه العامة العذي وقال القاضي هو الماء المستنقع في بركة أو نحوها يصب إليه ماء المطر في سواق تشق له فإذا اجتمع سقي منه واشتقاقه من العاثور وهي الساقية التي يجري فيها الماء لأنها يعثر بها من يمر بها وفي رواية مسلم :"وفيما يسقى بالسانية نصف العشر" والسواني :هي النواضح وهي الإبل يستقى بها لشرب الأرض .وعن معاذ قال: "بعثني رسول الله r إلى اليمن فأمرني أن آخذ مما سقت السماء أو سقي بعلا العشر وما سقي بدالية نصف العشر " قال أبو عبيد :البعل ما شرب بعروقه من غير سقي وفي الجملة كل ما سقي بكلفة ومؤنة من دالية أو سانية أو دولاب أو ناعورة أو غير ذلك ففيه نصف العشر وما سقي بغير مؤنة  ففيه العشر لما روينا من الخبر ولأن للكلفة تأثيرا في إسقاط الزكاة جملة  بدليل المعلوفة فبأن يؤثر في تخفيفها أولى ولأن الزكاة إنما تجب في المال النامي وللكلفة تأثير في تقليل النماء فأثرت في تقليل الواجب فيها ولا يؤثر حفر الأنهار والسواقي في نقصان الزكاة لأن المؤنة تقل لأنها تكون من جملة إحياء الأرض ولا تتكرر كل عام وكذلك لا يؤثر احتياجها إلى ساق يسقيها ويحول الماء في نواحيها لأن ذلك لا بد منه في كل سقي بكلفة فهو زيادة على المؤنة في التنقيص  يجري مجرى حرث الأرض وتحسينها. وإن كان الماء يجري من النهر في ساقية إلى الأرض ويستقر في مكان قريب من وجهها  لا يصعد إلا بغرف أو دولاب  فهو من الكلفة المسقطة لنصف الزكاة , على ما مر لأن مقدار الكلفة وقرب الماء وبعده لا يعتبر والضابط لذلك هو أن يحتاج في ترقية الماء إلى الأرض بآلة من غرف أو نضح أو دالية ونحو ذلك وقد وجد اهـ

بدائع الصنائع الجزء الثاني ص: 62  (حنفي)
(فصل) وأما بيان مقدار الواجب فالكلام في هذا الفصل في موضعين أحدهما في بيان قدر الواجب من العشر والثاني في بيان قدر الواجب من الخراج أما الأول فما سقي بماء السماء  أو سقي سيحا ففيه عشر كامل وما سقي بغرب أو دالية أو سانية ففيه نصف العشر والأصل فيه ما روي عن رسول الله r أنه قال "ما سقته السماء ففيه العشر وما سقي بغرب أو دالية أو سانية ففيه نصف العشر" وعن أنس t عن رسول الله  rأنه قال "فيما سقته السماء أو العين أو كان بعلا العشر وما سقي بالرشاء ففيه نصف العشر" ولأن العشر وجب مؤنة الأرض فيختلف الواجب بقلة المؤنة وكثرتها ولو سقي الزرع في بعض السنة سيحا وفي بعضها بآلة يعتبر في ذلك الغالب لأن للأكثر حكم الكل كما في السوم في باب الزكاة على ما مر ولا يحتسب لصاحب الأرض ما أنفق على الغلة من سقي  أو عمارة  أو أجر الحافظ  أو أجر العمال  أو نفقة البقر  لقوله r" ما سقته السماء ففيه العشر وما سقي بغرب  أو دالية  أو سانية ففيه نصف العشر"  أوجب العشر ونصف العشر مطلقا عن احتساب هذه المؤن ولأن النبي r أوجب الحق على التفاوت لتفاوت المؤن ولو رفعت المؤن لارتفع التفاوت .

المبسوط للسرخسي الجزء الثالث ص: 4
وإذا تفرقت الأراضي لرجل واحد فالمروى عن أبي يوسف رحمه الله تعالى أن ما كان من عمل عامل واحد يجمع وما كان من عمل عاملين يعتبر فيه النصاب في كل واحد منهما على حدة فإنه ليس للعامل ولاية الأخذ مما ليس في عمله وما في عمله دون النصاب والمروى عن محمد رحمه الله تعالى أنه يضم بعض ذلك إلى البعض لإيجاب العشر لأن المالك واحد ووجوب العشر عليه فكان مراد محمد رحمه الله تعالى من هذا فيما بينه وبين الله تعالى فأما في حق الأخذ للعامل فعلى ما قاله أبو يوسف رحمه الله تعالى   وإن كانت الأرض مشتركة بين جماعة فأخرجت طعاما فعلى قول محمد رحمه الله تعالى يعشر إن بلغ نصيب كل واحد منهم خمسة أوسق كما بينا في السوائم  وقال أبو يوسف إذا كان الخارج كله خمسة أوسق ففيه العشر لأنه لا معتبر بالمالك في العشر وإنما المعتبر بالخارج حتى يجب العشر في الأراضي الموقوفة التي لا مالك لها ثم العشر يجب فيما سقته السماء أو سقي سيحا فأما ما سقي بغرب أو دالية أو سانية ففيه نصف العشر وبه ورد الأثر عن رسول الله قال ما سقته السماء ففيه العشر وما سقى بغرب أو دالية ففيه نصف العشر وفي رواية ما سقي بعلا أو سيحا ففيه العشر وما سقي بالرشاء ففيه نصف العشر وعلل بعض مشايخنا بقلة المؤنة فيما سقته السماء وكثرة المؤنة فيما سقي بغرب أو دالية وقالوا لكثرة المؤنة  تأثير في نقصان الواجب وهذا ليس بقوي فإن الشرع أوجب الخمس في الغنائم والمؤنة فيها أعظم منها في الزراعة ولكن هذا تقدير شرعي فنتبعه ونعتقد فيه المصلحة وإن لم نقف عليه وكان ابن أبي ليلى يقول لا عشر إلا في الحنطة والشعير والزبيب والتمر إذا بلغ خمسة أوسق لظاهر الحديث الخاص فإن اعتبار الوسق للنصاب دليل على أنه لا يجب إلا فيما يدخل تحت الوسق قال وإذا أخرجت الأرض العشرية طعاما وعلى صاحبها دين كثير لم يسقط عنه العشر وكذلك الخراج لأن الدين يعدم غنى المالك بما في يده وقد بينا أن غنى معتبر لإيجاب العشر قال وإن كانت الأرض لمكاتب أو صبي أو مجنون وجب العشر في الخارج منها عندنا وقال الشافعي رحمه الله تعالى لا شيء في الخارج من أرض المكاتب والعشر عنده قياس الزكاة لا يجب إلا باعتبار المالك  أما عندنا الأرض النامية كالخراج والمكاتب والحر فيه سواء وكذلك الخارج من الأراضي الموقوفة على الرباطات والمساجد

المجموع شرح المهذب الجزء الخامس ص : 343         المكتبة السلفية
فإن كان ماشية أو غيرها من أموال الزكاة وعليه دين يستغرقه أو ينقص المال عن النصاب ففيه قولان (قال فى القديم) لا تجب الزكاة فيه لأن ملكه غير مستقر لأنه ربما أخذه الحاكم لحق الغرماء (وقال فى الجديد) تجب الزكاة فيه لأن الزكاة تتعلق بالعين والدين يتعلق بالذمة فلا يمنع أحدهما الآخر كالدين وأرش الجناية

مغني المحتاج الجزء الأول ص: 411
ولا يمنع الدين وجوبها سواء أكان حالا أم لا من جنس المال أم لا لله تعالى كالزكاة والكفارة والنذر أم لا في أظهر الأقوال لإطلاق الأدلة الموجبة للزكاة ولأنه مالك للنصاب نافذ التصرف فيه والثاني يمنع كما يمنع وجوب الحج والثالث يمنع في المال الباطن وهو النقد ولو عبر بالذهب والفضة ليشمل غير المضروب كان أولى والركاز والعرض لا يمنع في الظاهر وهو الماشية والزروع والثمار والمعدن والفرق أن الظاهر ينمو بنفسه والباطن إنما ينمو بالتصرف فيه والدين يمنع من ذلك ويحوج إلى صرفه في قضائه قال الإسنوي وأهمل المصنف زكاة الفطر وهي من الباطن أيضا على الأصح وأجيب بأن زكاة الفطر وإن كانت ملحقة بالباطن لكن لا مدخل لها هنا لأن الكلام في الأموال ومحل الخلاف ما لم يزد المال على الدين فإن زاد وكان الزائد نصابا وجبت زكاته قطعا وما إذا لم يكن له من غير المال الزكوي ما يقضي به الدين فإن كان لم يمنع قطعا عند الجمهور -إلى أن قال- و على الأول أيضا لو اجتمع زكاة ودين آدمي في تركة بأن مات قبل أدائها وضاقت التركة عنها قدمت أي الزكاة وإن كانت زكاة فطر على الدين وإن تعلق بالعين قبل الموت كالمرهون تقديما لدين الله لخبر الصحيحين فدين الله أحق بالقضاء ولأن مصرفها أيضا إلى الآدميين فقدمت لاجتماع الأمرين فيها والخلاف جار في اجتماع حق الله تعالى مطلقا مع الدين فيدخل في ذلك الحج وجزاء الصيد والكفارة والنذر كما صرح به في المجموع نعم الجزية ودين الآدمي يستويان على الأصح مع أن الجزية حق لله تعالى وفي قول يقدم الدين لأن حقوق الآدميين مبنية على المضايقة لافتقارهم واحتياجهم وكما يقدم القصاص على القتل بالردة وأجاب الأول بأن الحدود مبناها على الدرء وفي قول يستويان فيوزع المال عليهما لأن الحق المالي المضاف إلى الله تعالى يعود إلى الآدميين أيضا وهم المنتفعون به وفي قول يقدم الأسبق منهما وجوبا  وخرج بدين الآدمي دين الله تعالى ككفارة قال السبكي فالوجه أن يقال إن كان النصاب موجودا أي بعضه كما قاله شيخنا قدمت الزكاة وإلا فيستويان وبالتركة ما لو اجتمعا على حي فإنه إن كان محجورا عليه قدم حق الآدمي جزما كما قاله الرافعي في باب كفارة اليمين وإلا قدمت جزما كما قاله الرافعي هنا هذا إذا لم تتعلق الزكاة بالعين وإلا فتقدم مطلقا كما قاله شيخنا

تحفة المحتاج الجزء الثالث 254-245 دار إحياء التراث
(وتجب) الزكاة فيما مر (ببدو صلاح الثمر) ولو في البعض ويأتي ضابطه في البيع لأنه حينئذ ثمرة كاملة وقبله بلح أو حصرم (واشتداد الحب) ولو في البعض أيضا لأنه حينئذ قوت وقبله بقل قال أصله فلو اشترى أو ورث نخيلا مثمرة وبدا الصلاح عنده فالزكاة عليه لا على من انتقل الملك عنه  لأن السبب إنما وجد في ملكه وحذفه للعلم به من حيث تعليقه الوجوب بما ذكره ولا يشترط تمام الصلاح والاشتداد ومؤنة نحو الجداد والتجفيف والحصاد والتصفية وسائر المؤن من خالص ماله وكثير يخرجون ذلك من الثمر أو الحب ثم يزكون الباقي وهو خطأ عظيم ومع وجوبها بما ذكر لا يجب الإخراج إلا بعد التصفية والجفاف فيما يجف بل لا يجزئ قبلهما نعم يأتي في المعدن تفصيل في شرح قوله فيهما يتعين مجيء كله هنا فتنبه له فالمراد بالوجوب بذلك انعقاده سببا لوجوب الإخراج إذا صار تمرا أو زبيبا أو حبا مصفى فعلم أن ما اعتيد من إعطاء الملاك الذين تلزمهم الزكاة الفقراء سنابل أو رطبا عند الحصاد أو الجداد حرام  وإن نووا به الزكاة  ولا يجوز لهم حسابه منها إلا إن صفي أو جف وجددوا إقباضه كما هو ظاهر ثم رأيت مجليا صرح بذلك مع زيادة فقال ما حاصله أن فرض أن الآخذ من أهل الزكاة فقد أخذ قبل محله  وهو تمام التصفية  وأخذه بعدها من غير إقباض المالك له أو من غير نيته لا يبيحه قال وهذه أمور لا بد من رعاية جميعها وقد تواطأ الناس على أخذ ذلك مع ما فيه من الفساد  وكثير من المتعبدين يرونه أحل ما وجد وسببه نبذ العلم وراء الظهور اهـ واعترض بما رواه البيهقي أن أبا الدرداء أمر أم الدرداء أنها إذا احتاجت تلتقط السنابل فدل على أن هذه عادة مستمرة من زمنه e وأنه لا فرق فيه بين الزكوي وغيره توسعة في هذا الأمر وإذا جرى خلاف في مذهبنا أن المالك تترك له نخلات بلا خرص يأكلها فكيف يضايق بمثل هذا الذي اعتيد من غير نكير في الأعصار والأمصار اهـ وفيه ما فيه فالصواب ما قاله مجلي ويلزمهم إخراج زكاة ما أعطوه كما لو أتلفوه ولا يخرج على ما مر عن العراقيين وغيرهم  لأنه يغتفر في الساعي ما لا يغتفر في غيره ونوزع فيما ذكر من الحرمة بإطلاقهم ندب إطعام الفقراء يوم الجداد والحصاد خروجا من خلاف من أوجبه لورود النهي عن الجداد ليلا ومن ثم كره فأفهم هذا الإطلاق أنه لا فرق بين ما تعلقت به الزكاة وغيره ويجاب بأن الزركشي لما ذكر جواز التقاط السنابل بعد الحصاد قال ويحمل على ما لا زكاة فيه أو علم أنه زكي أو زادت أجرة جمعه على ما يحصل منه فكذا يقال هنا قول المحشي (قوله فيلزمه بدله إلخ) ليس موجودا في نسخ الشرح التي بأيدينا وأما قول شيخنا الظاهر العموم وأن هذا القدر مغتفر فهو وإن كان ظاهر المعنى  ومن ثم جزم به في موضع آخر لكن الأوفق بكلامهم ما قدمته أولا ومن لزوم إخراج زكاته بإطلاقهم المذكور في الحب مع أنه لا يزكى إلا مصفى ولا خرص فيه ويرد بتعين الحمل في مثل هذا على ما لا زكاة فيه وقد صرحوا بأن من تصدق بالمال الزكوي بعد حوله تلزمه زكاته  ولم يفرقوا بين قليله وكثيره فتعين حمل الزركشي ليجتمع به أطراف كلامهم ولا ينافي ذلك ما ذكروه في منع خرص نخل البصرة  لأنه ضعيف كما يأتي ويأتي رد قول الإمام والغزالي: المنع الكلي من التصرف خلاف الإجماع وضعف ترك شيء من الرطب للمالك  وأحاديث الباكورة وأمر الشافعي بشراء الفول الرطب محمولان على ما لا زكاة فيه إذ الوقائع الفعلية تسقط بالاحتمال وكما لم ينظر الشيخان وغيرهما في منع بيع هذا في قشره إلى الاعتراض عليه بأنه خلاف الإجماع الفعلي وكلام الأكثرين وعليه الأئمة الثلاثة كذلك لا ينظر فيما نحن فيه إلى خلاف ما صرح به كلامهم وإن اعترض بنحو ذلك إذ المذهب نقل فإذا زادت المشقة في التزامه هنا فلا عتب على المتخلص بتقليد مذهب آخر كمذهب أحمد فإنه يجيز التصرف قبل الخرص والتضمين وأن يأكل هو وعياله على العادة ولا يحسب عليه وكذا ما يهديه من هذا في أوانه (قوله: أو زادت إلخ) محل تأمل بصري أي فإن مقتضاه أن من شروط وجوب إخراج الزكاة أن لا تزيد المؤنة على الحاصل من الثمر أو الحب فليراجع (قوله: الظاهر العموم) أي عموم جواز التقاط السنابل بعد الحصاد ولا يحمل على ما ذكره الزركشي سم
 
More aboutzakat tanaman dengan memProsentase dari Pupuk

Memberikan Zakat Kepada Kiyai

Diposkan oleh Bany adam


Hukum Memberikan Zakat Kepada Kiyai
Latar Belakang Masalah :
Pada saat hari Raya Idul Fitri disebuah desa sebut saja desa Kalisasak, model pendistribusian zakat fitrahnya dikumpulkan pada seorang Kiyai. Namun pada saat dibagi bagikan ada juga yang dialokasikan untuk madrasah dan masjid.
Pertanyaan :
Bolehkah Bapak Kiyai mendistribusikan zakat fitrah tersebut pada masjid dan madrasah ? Karena masalah ini (masalah zakat pada masjid dan madrasah) sering menjadi polemik di masyarakat, pendapat mana yang kuat dan bisa dibuat “ tetanggenan “ ?
Jawaban :
Hukum pendistribusian zakat pada masjid dan madrasah terjadi khilaf: Kalau Kiyai tersebut termasuk mustahiqquzzakat dan zakat diberikan padanya maka tasaruf-nya sah, termasuk shodaqoh.
Kalau kiyai tersebut termasuk amil maka pendistribusian tersebut tidak diperbolehkan kecuali menurut pendapat yang mentafsiri sabilillah adalah sabilil khoir sebagaimana dalam kitab:
  • Tafsir Munir Juz I Hal 344
  • Tafsir Khozin Juz II Hal 92
  • Jawahirul Bukhori 173
  • Mau’idlotul Mu’minin Juz I Hal 55
الفقه الإسلامى الجزء الثانى ص: 1958
هل تعطى الزكاة لغير هذه الأصناف ؟ اتفق جماهير فقهاء المذاهب على انه لا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى من بناء المسجد والجسور والقناطر إلخ

بغية المسترشدين 106
(مسئلة) لا يستحق المسجد شيئا من الزكاة مطلقا لا يجزء صرفها إلا لحر المسلم ليست الزكاة كالوصية.

تفسير المنير الجزء الأول ص: 244
(فى سبيل الله) ويجوز للغازى ان يأخذ من مال الزكاة وإن كان غنيا كما هو مذهب الشافعية ومالك واسحق وقال أبو حنيفة وصاحباه لا يعطى إلا إذا كان محتاجا ونقل القفال عن بعض الفقهاء أنهم اجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المسجد لان قوله تعالى فى سبيل الله عام فى الكل

الفقه الإسلامى الجزء الثانى ص: 876
أتفق جماهير فقهاء المذاهب على أنه لا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى من بناء المساجد ونحو ذلك من القرب التى لم يذكرها الله تعالى مما لا تمليك فيه: لأن الله سبحانه وتعالى قال (إنما الصدقات للفقرء) وكلمة إنما للحصر والإثبات. ثبت المذكور وتنقضى ما عداه فلا يجوز صرف الزكاة إلى هذه الوجه: لأنه لم يوجد التمليك اصلا، لكن فسر الكسانى فى البدائع سبيل الله بجميع القرب فيدخل فيه كل من سعى فى طاعة الله وسبيل الخيرات إذا كان محتاجا لأن فى سبيل الله عام فى الملك اى يشمل عمارة المسجد ونحوها مما ذكر وفسر بعض الحنيفية "فى سبيل الله" بطلب العلم ولو كان الطلب عنيا.
 http://fiqh-imamsyafii.blogspot.com/
More aboutMemberikan Zakat Kepada Kiyai

fiqh janazah riingkas

Diposkan oleh Bany adam


YANG WAJIB DILAKUKAN UNTUK MAYYIT
  1. Memandikan mayyit
  2. Mengkafani mayyit
  3. Menshalati mayyit
  4. Mengubur mayyit
(فصل) الذي يلزم للميت أربع خصال: غسلة وتكفينة والصلاة علية ودفنه.
MEMANDIKAN MAYYIT Paling sedikitnya memandikan mayyit atau hal yang mencukupi dalam memandikan mayyit adalah meratakan siraman ke seluruh badannya dangan air. Adapun memandikan mayyit yang sempurna adalah membasuh (membersihkan) qubul dan qubur mayyit, menghilangkan kotoran dari hidungnya, mewudlu'kan mayyit, menyirami badannya dengan daun as-sidr (daun bidara) dan menyirami mayyit dengan 3 kali siraman.
(فصل) أقل الغسل: تعميم بدنه بالماء. وأكمله أن يغسل سوأتيه وأن يزيل القذر من أنفه وأن يوضئه وأن يدلك بدنه بالسدر وأن يصب الماء عليه ثلاثا.
MENGKAFANI MAYYIT Paling sedikitnya mengkafini mayyit adalah satu pakaian yang mencukupi. Adapun mengkafani yang sempurna adalah 3 lapis kain bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan adalah qamis (gamis, penj), khimar (baju terusan), izar dan dua lapis pakaian. 
(فصل) أقل الكفن: ثوب يعمه.، وأكمله للرجال ثلاث لفائف، وللمرأة قميص وخمار وإزار ولفافتان.
RUKUN SHALAT JENAZAH ADA 7
  1. Niat
  2. Takbir 4 kali
  3. Berdiri bagi yang mampu
  4. Membaca surah al-Fatihah
  5. Membaca shalawat kepada Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam setelah takbir kedua
  6. Membaca do'a untuk mayyit setelah takbir ketiga
  7. Mengucapkan salam
(فصل) أركان صلاة الجنازة سبعة: الأول النية، الثاني أربع تكبيرات، الثالث القيام على القادر، الرابع قراءة الفاتحة، الخامس الصلاة على النبي صلى الله علية وسلم بعد الثانية، السادس الدعاء للميت بعد الثالثة، السابع السلام
MENGUBUR MAYYIT Paling sedikitnya menguburkan mayyit adalah cukup dengan lubang yang bisa mencegah bau mayyit dan bisa melindungi dari binatang buas. Adapun menguburkan mayyit yang sempurna adalah seukuran manusia berdiri ditambah dengan acungan tangan ke atas, meletakkan pipi mayyit diatas tanah dan wajid menghadapkan mayyit ke qiblat.
(فصل) أقل الدفن: حفرة تكتم رائحته وتحرسه من السباع. وأكمله قامة وبسطة، ويوضع خده على التراب ويجب توجيهه إلى القبلة.
MEMBONGKAR MAYYIT Melakukan pembongkaran mayyit diperbolehkan pada 4 hal yaitu :
  1. Karena untuk dimandikan jika jasadnya belum berubah
  2. Karena ingin menghadapkannya ke qiblat
  3. Karena adanya harta yang ikut terkubur bersama mayyit
  4. Perempuan yang di qubur bersama janinnya namun ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.
(فصل) ينبش الميت لأربع خصال: للغسل إذا لم يتغير ولتوجيهه إلى القبلة وللمال إذا دفن معه، والمرأة إذا دفن جنينها وأمكنت حياته.

More aboutfiqh janazah riingkas

fiqih puasa ringkas

Diposkan oleh Bany adam


HARTA YANG WAJIB ZAKAT ADA 6 MACAM
  • Binatang ternak
  • Emas dan perak Perak
  • Buah-buahan dan tanaman pokok
  • Harta  simpanan (pusaka)
Adapun wajib zakatnya adalah seperempat dari 10 (2,5 %) dari jumlah pusaka, rikaz dan ma'dan.
(فصل) الأموال التي تلزم فيها الزكاة ستة أنواع: النعم والنقدان والمعشرات وأموال التجارة، وواجبها ربع عشر قيمة عروض التجارة والركاز والمعدن.
KETENTUAN WAJIB PUASA ADA 5
  1. Sempurnanya bulan Sya'ban dengan jumlah 30 hari
  2. Dengan Ru'yatul Hilal (melihat bulan, penj) secara dengan benar orang yang menyaksikannya walaupun ia orang fasiq.
  3. Dengan menetapkankannya secara benar orang yang tidak melihatnya dengan persaksian yang adil (dihadapan hakim, penj)
  4. Dengan khabar orang yang adil riwayatnya serta terpercaya, sama saja baik membenarkan didalam hatinya atau pun tidak, atau orang yang tidak terpercaya namun didalam hatinya membenarkan.
  5. Dengan dugaan (dlan) bahwa telah masuk bulan Ramadlan berdasarkan ijtihad bagi orang yang ragu dengan hal tersebut.
(فصل) يجب صوم رمضان بأحد أمور خمسة: (أحدها) بكمال شعبان ثلاثين يوما (وثانيها) برؤية الهلال في حق من رآه وان كان فاسقا (وثالثا) بثبوته في حق من لم يره بعدل شهادة (ورابعا) بإخبار عدل رواية موثوق به سواء وقع في القلب صدق أم لا أوغيره موثوق به إن وقع في القلب صدقه (وخامسها) بظن دخول رمضان بالإجتهاد فيمن اشتبه عليه ذلك.
SYARAT SHAHNYA PUASA ADA 4
  1. Islam
  2. Aqil (berakal)
  3. Suci semisal dari haidl
  4. Mengetahui waktu puasa sebelumnya bagi orang yang berpuasa.
(فصل) شروط صحته أربعة أشياء: إسلام وعقل ونقاء من نحو حيض وعلم بكون الوقت قبلا للصوم.
SYARAT WAJIBNYA PUASA ADA 5
  1. Islam
  2. Mukallaf (orang yang telah terkena kewajiban syara', penj)
  3. Kuat melukan puasa
  4. Sehat
  5. Iqamah (tidak bepergian, penj)
(فصل) شروط وجوبه خمسة اشياء: اسلام وتكليف وإطاقة وصحه وإقامة.
RUKUN PUASA ADA 3
  1. Niat pada malam harinya untuk setiap puasa fardlu
  2. Meninggalkan hal yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat serta bisa memilih (tidak ada paksaan, penj), juga tidak bodoh yang ma'dzur (terhalang)
  3. Shaim (orang yang melakukan puasa).
(فصل) أركانه ثلاثة أشياء: نية ليلا لكل يوم في الفرض وترك مفطر ذاكرا مختارا غير جاهل معذور وصائم.
QADLA' PUASA Wajib beserta meng-qadla' bagi orang yang puasa yakni membayar kaffarah dan dilakukan ta'zir atas orang yang merusak (membatalkan) puasanya pada siang Ramadhan secara penuh dengan sebab jima', serta berdo'a bagi orang yang berpuasa.
Wajib beserta meng-qadla'  bagi orang yang puasa pada 6 tempat yaitu :
  1. Pada bulan ramadlan bukan pada bulan yang lainnya karena sengaja membatalkan puasa.
  2. Meninggalkan (melakukan) niat didalam hari pada puasa fardlu.
  3. Orang yang bersahur karena menyangka masih malam, namun dugaannya ternyata berbeda (sudah terbit fajar, penj)
  4. Orang yang berbuka puasa karena menyangka telah terbenam matahari, namun faktanya menyelisihi dugaannya (matahari belum terbenam, penj).
  5. Orang yang menyakini bahwa telah genap tanggal 30 bulan Sya'ban namun ternyata telah memasuki bulan Ramadlan.
  6. Orang yang terlanjur menelan air ketika kumur-kumur atau dari air yang masuk dari hidung.
(فصل) يجب مع القضاء للصوم الكفارة العظمى والتعزير على من أفسد صومه في رمضان يوما كاملا بجماع تام آثم به للصوم ويجب مع القضاء الإمساك للصوم في ستة مواضع: الأول في رمضان لافي غيره على متعد بفطره، والثاني على تارك النية ليلا في الفرض، والثالث على من تسحر ظانا بقاء الليل فبان خلافة أيضا، والرابع على من افطر ظانا الغروب فبان خلافه ايضا، والخامس على من بان له يوم ثلاثين من شعبان أنه من رمضان، والسادس على من سبقه ماء المبالغة من مضمضة واستنشاق
BATALNYA PUASA
  • Murtad
  • Haidl
  • Nifas
  • Melahirkan
  • Gila walaupun hanya sebentar
  • Pingsan dan mabuk yang disengaja jika terjadi pada siang harinya.
(فصل) يبطل الصوم: بردة وحيض ونفاس أو ولادة وجنون ولو لحظة وبإغماء وسكر تعدى به إن عمَّا جميع النهار
MACAM IFTHAR RAMADLAN Ifthar (berbuka) pada bulan ramadlan ada 4 macam :
  • Wajib pada orang haidl dan nifas
  • Jais sebagaimana pada orang yang bepergian (safar) dan orang sakit
  • Tidak wajib juga tidak pula jaiz sebagaimana pada orang yang gila
  • Haram sebagaimana orang yang mengakhirkan qadla' Ramadlan pahala dimungkinkan untuk dikerjakan hingga tidak mencukupinya waktu mengqadla' tersebut.
(فصل) الإفطار في رمضان أربعة انواع: واجب كما في الحائض والنفساء، وجائز كما في المسافر والمريض ولاولاكما في المجنون، ومحرم كمن أخر قضاء رمضان تمكنه حتى ضاق الوقت عنه.
IFTHAR RAMADHAN TERBAGI 4 1. Wajib meng-qadla' dan membayar fidyah, ada 2 :
  • Ifthar karena mengkhawatirkan orang lain (seperti mengkhawatirkan janin, penj)
  • Ifthar beserta mengakhirkan qadla' puasa sampai tiba Ramadlan berikutnya.
2. Wajib meng-qadla' tanpa membayar fidyah yaitu banyak seperti orang pingsan
3. Wajib membayar fidyah tanpa wajib meng-qadla' puasa, yaitu eperti orang yang sangat tua
4. Tidak wajib meng-qadla' dan tidak wajib membayar fidyah yaitu orang yang gila yang tidak disengaja.
وأقسام الإفطار أربعة: أيضا ما يلزم فية القضاء والفدية وهو اثنان: الأول الإفطار لخوف على غيرة، والثاني الإفطار مع تأخير قضاء مع إمكانه حتى يأتي رمضان آخر، وثانيها مايلزم فية القضاء دون الفدية وهو يكثر كمغمى علية، وثالثهما ما يلزم فيه الفدية دون القضاء وهوشيخ كبير، ورابعها لا ولا وهو المجنون الذي لم يتعد بجنونه.
TIDAK MEMBATALKAN PUASA Sesuatu yang tidak membatalkan puasa walaupun sampai sampai kerongga mulut, ada 7 macam :
  1. Sesuatu yang masuk sampai kerongga mulut karena lupa
  2. ___ karena tidak tahu (jahil)
  3. ___ karena dipaksa orang lain
  4. ___ karena air liur yang mengalir diantara gigi, sedangkan tidak mungkin bisa di keluarkan karena adanya udzur (halangan).
  5. ___ berupa debu jalanan
  6. ___ berupa ayakan tepung
  7. ___ berupa lalat yang masuk ketika terbang, atau seumpamanya.
(فصل) الذي لا يفطِر مما يصل إلى الجوف سبعة أفراد: مايصل إلى الجوف بنسيان أو جهل أو إكراة وبجريان ريق بما بين أسنانه وقد عجز عن مجه لعذره وما وصل إلى الجوف وكان غبار طريق، وما وصل إلية وكان غربلة دقيق، أوذبابا طائرا أو نحوه.

والله اعلم بالصواب نسأل الله الكريم بجاه نبيه الوسيم، أن يخرجني من الدنيا مسلما، ووالدي وأحبائي ومن إلي انتمي، وان يغفر لي ولهم مقحمات ولمما، وصلى الله على سيدنا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف رسول الله إلى كافة الخلق رسول الملاحم، حبيب الله الفاتح الخاتم، وآله وصحبه أجمعين والحمد لله رب العالمين.
تم بعون الله تعالى متن سفينة النجا.
More aboutfiqih puasa ringkas

fiqih sholat jama' qoshor ringkas

Diposkan oleh Bany adam


SYARAT JAMA' TAQDIM ADA 4
  1. Harus dimulai dengan shalat yang pertama
  2. Niat jama'
  3. Berturut-turut (tidak di pisah, penj) antara kedua shalat
  4. Berlangsungnya udzur (halangan)
(فصل) شروط جمع التقديم أربعة: البداءة بالأولى ونية الجمع والموالاة بينهما ودوام العذر.
SYARAT JAMA' TA'KHIR ADA 2
  1. Niat jama' ta'khir ketika masih berada pada waktu shalat yang pertama
  2. Adanya udzur sampai sempurnanya mengerjakan shalat yang kedua
(فصل) شروط جمع التأخير إثنان: نية التأخير وقد بقي من وقت الأولى مايسعها ودوام العذر إلى تمام الثانية.
SYARAT QASHAR SHALAT ADA 7
  1. Harus bepergian (safar) sejauh 2 marhalah
  2. Harus berpegian yang mubah (diperbolehkan)
  3. Mengetahui kebolehan meng-qashar shalat
  4. Niat meng-qashar shalat ketika takbiratul ihram
  5. Tidak boleh bermakmum pada orang yang shalat sempurna walaupun hanya sebagian shalat saja, penj.
(فصل) شروط القصر سبعة: أن يكون سفره مرحلتين وأن يكون مباحا والعلم بجواز القصر ونيه القصر عند الإحرام وأن لايقتدي بمتم في جزء من صلاتة.

More aboutfiqih sholat jama' qoshor ringkas
Ping your blog, website, or RSS feed for Free